Malam itu lagi-lagi aku memutuskan untuk mampir ke rumah peninggalan Ibu. Bukan sekedar menengok, tapi lebih kepada pemenuhan hasratku yang begitu kuat untuk berdialog dengan diri ini. Malam itu, seperti juga malam-malam sebelumnya, aku tak pernah menghitung dan tak pernah berniat menghitung berapa lama aku di rumah tua yang sudah rusak itu. Tapi yang jelas untuk kali ini, tak perlulah Ann kuberi tahu. Biar dia mengira aku bersama klien-klienku, menghabiskan sisa-sisa malam yang biasa aku lakukan di hari Jumat.
Di bawah terangnya kerlipan berjuta bintang dan terangnya senyum rembulan, malam itu semua tampak jelas terlihat. Kekuatan lampu langit itu bahkan mampu melukis siluet ragaku di bumi tempat aku berdiri, di antara sisa-sisa tembok tua berlumut yang menggigil diterpa angin laut. Ya, di rumah peninggalan ibu yang tak lagi pantas disebut rumah karena telah hancur di hampir semua bagiannya. Tak ada lagi yang utuh di sana, kecuali kenangan yang berpuluh tahun telah terukir di pikiranku.
Sejak awal kedatangan aku tak berniat untuk menggulung celana. Karenanya kubiarkan sepatu dan celana ini basah terendam dan terus dihempas air laut yang meninggi. Lalu seperti kebiasaan yang sudah-sudah setiap kali aku datang ke sini, memutari rumah peninggalan Ibu seolah menjadi sebuah ritual. Sadar atau tidak hal itu selalu aku lakukan. Setelah itu barulah aku akan masuk ke dalamnya, lewat pintu samping yang sudah lapuk dan hilang separuh bagiannya. Sesampai di dalam aroma lembab pun menebar di bekas ruang keluarga. Diterangi cahaya rembulan yang menembus atap rumah tak bergenteng dan berplafon itu, aku menyusuri ruang demi ruang.
Saat berada di bekas ruang kerja Bapak yang dulu merangkap perpustakaan keluarga, kulihat seberkas cahaya putih kebiru-biruan melintas di depanku. Aku kaget dan menghentikan langkah. Cahaya itu pun ikut berhenti. Aku mencoba berpikir tenang, tapi sayang malah rasa takutku yang menang. Tak lama kemudian cahaya itu memanjang dan berputar beberapa kali mengelilingiku. Aku semakin takut dan tak mampu berbuat apa-apa. Sekujur tubuhku basah oleh keringat. Kulirik gerakan cahaya itu, sebentar kemudian dia melesat ke atap rumah sebelum akhirnya turun lagi dan berhenti tepat di atas kepalaku. Aku pasrah dan mungkin karena itu juga yang membuat benda asing itu nekat masuk ke dalam tubuhku. Perlahan dan terasa begitu lembut menyebar ke seluruh jaringan sel tubuhku.
Semua terjadi begitu cepat. Untuk beberapa saat kesadaranku pun hilang. Aku benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apa ini yang namanya kesambet? Entahlah. Aku tak yakin. Tapi yang pasti sejak itu aku merasa punya kekuatan baru yang tak kumiliki sebelumnya. Ya, aku bisa melihat masa lalu! Di ruangan itu tiba-tiba saja aku bisa melihat Bapak sedang asyik mengetik tanpa mempedulikan kehadiranku. Malam itu tatapan mata Bapak begitu dingin, sedingin dinding-dinding berlumut di sekelilingku. Dia bahkan tak pernah senyum sedikit pun, seperti yang biasa dia berikan pada siapa saja yang datang kepadanya.
Belum tuntas mata ini dibius oleh kehadiran Bapak, tiba-tiba saja sosok Ibuku pun datang mengagetkanku. Bagaikan kilat Ibu melesat di depanku, membawa nampan berisikan kopi Lampung kesukaan Bapak berikut pisang tanduk rebusnya. Melihat Ibu datang membawa kopi, kulihat Bapak tetap saja asyik mengetik dan tak memberi respon apapun. Jangankan kata, senyum pun tiada.
Pandangan lantas kualihkan ke deretan buku tua di balik punggung Bapak. Di rak yang juga tua dan menjulang tinggi hingga ke plafon, kulihat semua buku yang ada di dalamnya masih berbaris rapi. Begitu juga dengan benda-benda lain penghuni setia kamar ini. Semua masih di tempatnya masing-masing. Sepasang kursi rotan berikut mejanya yang berada tepat di bawah jendela di dinding Timur. Lalu potret hitam putih leluhurku Karto Diredjo dan Nyimas Ian yang menempel di dinding Barat dan sebuah lukisan tua karya Bapak bergambar perempuan desa telanjang dada di sudut kiri di dinding Utara.
Ibu menaruh kopi dan pisang tanduk rebus di meja kerja Bapak. Hanya sebentar. Dari sana beliau langsung bergegas meninggalkan kamar. Setelah itu dari arah depan rumah kudengar deru mesin mobil berhenti. Suaranya kasar sekali. Kulangkahkan kakiku mendekati jendela dan kudorong sedikit bagian luarnya. Benar saja, sebuah jip berwarna gelap berhenti persis di muka rumahku. Dalam keremangan cahaya samar-samar kulihat tiga orang di dalamnya. Dua diantaranya turun dan berjalan ke pintu pagar rumah kami. Satu berperawakan tinggi besar dan tegap, satu lagi gemuk dan agak pendek. Keduanya berjaket hitam.
Kudengar langkah Ibu mendekat ke pintu depan. Membukakan pintu, mempersilakan kedua tamunya masuk dan duduk. Ibu membuka pembicaraan. Dari celah pintu yang sedikit terbuka aku bisa melihat kecemasan dari wajah dan getar bibirnya. Meskipun begitu Ibu kelihatan benar untuk tetap tegar. Tak lama kemudian Si Gemuk menyerahkan amplop pada Ibu. Kuperhatikan lagi sikap Ibu. Kali ini giliran tangannya yang sedikit bergetar. Dibukanya amplop dan dibacanya sejenak isi surat itu. Ibu tak lagi banyak bertanya seperti di awal kedatangan kedua tamunya. Ia berdiri dan memanggil Bapak yang sepertinya sudah siap dengan apa yang harus dihadapinya.
Bapak melintas di depanku tanpa menoleh sedikit pun ke arahku, beliau langsung menemui kedua tamu yang datang menjemputnya. Setelah membaca isi surat Bapak pun pamit pada Ibu, juga pada kedua adikku Sapto dan Seno. Tak ada kata yang keluar dari mulut Bapak, hanya tepukan pelan yang mendarat di pundak orang-orang yang dicintainya. Malam itu di teras rumah Ibu, Sapto dan Seno melepas kepergian Bapak. Ibu berdiri mematung sambil menggenggam surat yang sudah basah sebagian oleh keringatnya. Kulihat Ibu dan kedua adikku dihembus asap hitam pekat dari jip yang membawa Bapak. Asap itu lalu bergulung dan membubung tinggi ke angkasa, bersekutu dengan awan hitam yang juga pekat.
***
Selepas magrib suara takbir dan takmid berkumandang hingga sepanjang malam. Mengalun syahdu hingga ke penjuru kampung, menyemarakkan malam akhir Ramadhan. Sementara nun jauh di sana di angkasa raya, langit malam pun tak kalah semaraknya mempertontonkan kemerlip berjuta bintang. Malam yang ceria, seceria wajah anak-anak kampungku yang siap menyambut hari kemenangan. Tawa riangnya memekakkan telinga. Apalagi ketika roket-roket yang disulut api itu mengangkasa, kemudian menebarkan bunga-bunga api nan indah di atas sana. Pemandangan malam pun jadi kian cantik dibuatnya. Ingin rasanya malam lebih panjang lagi, namun sayang suara semarak malam keburu berganti dengan kumandang azan subuh.
Kesejukan pagi pun datang begitu cepat melesat. Geliatnya sunyi namun penuh arti dan semangat. Pagi itu kulihat kebahagiaan datang berkunjung ke rumahku, menyapa semua yang ada di dalamnya. Pada Ann yang berkerudung putih, pada Mentes anak gadisku yang bergamis khaki dan pada Wiji lelaki muda penerusku yang berkopiah hijau pupus, serta pada sedap malam nan segar yang menebar aroma mewangi ke sudut-sudut ruangan.
Di luar rumah sinar mentari begitu bernafsu masuk ke rumahku. Cahayanya menerobos masuk di antara lebatnya daun jambu yang menutupi sebagian kaca jendela. Dengan penuh kasih mentari pun begitu ikhlas membelai lembut wajah istri dan kedua anakku yang bergegas menuju sumber suara takbir dan takmid. Sayang di tengah kebahagiaan itu, aku tak melihat diriku di sana. Begitu juga saat saling bermaafan tiba, saat dimana kedua anakku biasanya bergantian memohon maaf pada aku dan Ann. Di momen penting itu kulihat hanya Ann yang duduk di sofa ruang keluarga. Entah dimana aku.
Mata Ann yang bening kulihat berkaca-kaca saat mendekap erat Mentes dan Wiji. Sepertinya dia tengah menumpahkan semua rasa yang tengah berkecamuk di hatinya. Tapi dari sana tak kudengar sedikit pun suara. Jangankan isakkan, bisikan pun tiada. Hingga Ann melepas dekapan dan menatap dalam-dalam mata kedua buah hatinya, tak keluar sedikit pun bebunyian. Kalau pun kemudian terdengar suara, adalah ajakan Ann yang lembut pada anak-anaknya untuk segera menikmati hidangan lebaran, menemui tetangga-tetangga dan ajakan ke rumah Eyang mereka di Kayumanis.
Menyebut kata Eyang, apalagi Eyang Kung, aku lihat Ann seperti digelayuti rasa bersalah pada kedua anaknya. Begitu juga kalau dia menyebut namaku; Satrio. Bagi Ann, semua yang berkaitan dengan aku dan Bapak selalu memunculkan kebimbangan. Benar atau tidak, sepertinya tak penting lagi. Saat itu yang terpikir olehnya adalah menghadapi dua masalah dengan kuat dan tabah, tanpa menjadi gundah dengan berondongan pertanyaan dari kedua anaknya. Awalnya Ann tak sanggup kalau harus mengatakan hal yang sebenarnya pada Mentes, anak perempuannya yang baru kelas dua SMP, apalagi pada Wiji yang masih kelas tiga SD. Karenanya hampir tiga bulan ini dia menyembunyikan semua yang berkaitan dengan aku dan Kakek mereka.
Kini seiring dengan berjalannya waktu, Ann akhirnya mengungkap semuanya pada Mentes dan Wiji. Rasanya tak sanggup kalau dia harus terus menerus menutupinya. Sejak minggu lalu, sedikit demi sedikit dia mulai ceritakan semua masalah tentang Ayah dan Kakek mereka. Bahkan Ann juga menawarkan diri untuk mengantar mereka menemui Sang Kakek. Hanya Kakek. Karena sampai saat ini, Ann memang benar-benar tak tahu dimana keberadaanku, Suami sekaligus Ayah bagi kedua anaknya.
***
Jarak dari rumah Ann ke tempat Eyang Kung hanya 10 Kilometer. Tapi entah kenapa jarak sedekat itu terasa jauh dan melelahkan. Padahal setiap hari untuk pergi dan pulang kantor, paling tidak 40 Kilometer biasa ditempuhnya dan tak pernah ada masalah. Ann merasa perjalanan kali ini memang beda. Apa dia memang belum siap betul untuk membawa Mentes dan Wiji menemui Eyang Kung-nya?
Sepanjang perjalanan yang kulihat Ann malah membayang-bayangkan pertemuan antara Eyang Kung, Mentes dan Wiji. Membayangkan bagaimana nanti harus mengendalikan sikap kedua buah hatinya yang ektra kritis dengan berondongan pertanyaan pada Sang Kakek. Sayang lagi-lagi aku tak melihat diriku ada di sana. Ya, di dalam mobil itu, menemani mereka menemui Kakek tersayangnya. Mungkin karena itu juga yang membuat Ann melamun setiap kali mobilnya berhenti di perempatan lampu merah.
Memasuki Jalan Jenderal Sudirman selepas pertigaan, kulihat Ann mengarahkan mobilnya menuju pelataran parkir gedung tua bertembok tinggi yang berhiaskan kawat berduri. Pelan-pelan ditelusurinya jalan berkerikil itu hingga akhirnya dia tepikan mobilnya di sudut halaman, tepat di bawah pohon Kamboja. Mobil belum berhenti benar, tapi anak-anaknya sudah kepingin keluar.
”Yang Kung tinggal di sini, Bu?” tanya Wiji tak sabar.
”Iya, di sini,” jawab Ann pelan, nyaris tak terdengar.
”Emangnya kalo tembok penjara harus tinggi ya, Bu?”
”Yaiyalah…, kalo pendek tahanannya pada kabur.” potong Mentes sinis.
”Sssst…, sudah-sudah,” sahut Ann menengahi. ”Awas tuh, jangan sampai ketinggalan oleh-oleh buat Eyang.”
”Emang Eyang Kung salah apa sih, kok dipenjara?” desak Wiji penasaran.
”Nggak semua orang yang dipenjara itu salah.” potong Mentes lagi.
Wiji kesal dan menatap sinis Kakaknya.
”Kenapa sih, Mbak, nanya aja nggak boleh?”
"Boleh, sayang. Boleh.” Ann membelai rambut Wiji sambil menuntunnya ke pintu masuk Rumah Tahanan. ”Ibu kan sudah bilang, kalau Yang Kung itu nggak salah apa-apa. Eyang cuma menyampaikan kebenaran kok pada pemerintah.”
”Nggak adil banget sih, Bu?” timpal Mentes. ”Orang yang korupsi, makan duit rakyat dan jelas-jelas salah nggak dihukum. Eeeh…, Eyang Kung yang bener malah dimasukin ke penjara.”
Ann tersenyum mendengar komentar putrinya.
”Makanya kalian sekolah yang pintar, biar bisa jadi Presiden….”
”Terus kalo udah jadi Presiden, kita ngapain?” pancing Wiji.
”Ya, bela rakyat. Lakukan perubahan dan tegakkan kebenaran,” jawab Ann penuh semangat sambil mengepalkan tangan. ”Prinsipnya, sekali berarti sudah itu mati!”
”Ibu kita hebat ya, De.” kata Mentes melirik ke Adiknya minta dukungan.
”Enggak, ah, Mbak,” tolak Wiji. ”Hebatan Presiden.”
”Hahahahahahahahahaha,” Ann dan Mentes pun tertawa.
Di depan pintu masuk terlihat dua orang petugas jaga. Tubuhnya tinggi dan tegap dengan wajah yang dingin tak bersahabat. Ann menggandeng Mentes dan Wiji masuk ke ruang pendaftaran. Di sana terpampang jadwal hari dan jam besuk tahanan. Setelah menyampaikan maksud kedatangan serta mengisi form isian, Ann dipersilakan masuk ke ruang pemeriksaan. Di ruang itu salah seorang sipir perempuan memeriksa barang bawaan Ann. Setelah dinyatakan lolos sensor, baru kemudian dia diperbolehkan masuk ke dalam ruang besuk.
Ann memilih tempat duduk yang agak jauh dari pintu masuk, agar tak terganggu orang-orang yang berlalu-lalang. Lima menit pertama Eyang Kung tak kunjung datang,
Mentes dan Wiji tampak gelisah. Lima menit berikutnya saat Ann mondar-mandir menghilangkan kejenuhan di depan deretan kursi pembesuk, di kejauhan nampak seorang lelaki tua berbaju batik memberi senyuman ke arahnya. Andai saja Eyang Kung tidak senyum, Ann tak akan mengenalinya.
Ann benar-benar pangling dengan penampilan Eyang Kung. Dibandingkan seminggu yang lalu, sewaktu Ann datang di hari pertama lebaran bersama keluarga besar Eyang Uti, penampilan Eyang Kung kali ini begitu istimewa.
Eyang Kung tampil rapi dan berwibawa. Setelah diamati lebih jelas, Ann baru menyadari kalau yang membuat Ayah Mertuanya itu tampil lebih segar lantaran kumis dan janggutnya yang lebat dan cenderung berantakan itu kini sudah tak ada.
Eyang Kung berdiri di hadapan Ann dan kedua cucunya. Dia mendekat ke jeruji besi yang membatasi pertemuan mereka. Masih dengan senyum khasnya, tahanan politik penghuni Blok N itu lantas mengulurkan tangannya. Ann, Mentes dan Wiji bergantian menyalami dan mencium tangannya.
”Waaah…, cucu Eyang tambah cantik dan ganteng aja, nih.” sapa Eyang ramah.
Mentes dan Wiji pun tersipu.
”Yang Kung, sehat?” tanya Mentes terlihat sungkan.
”Alhamdulillah, sayang. Seperti yang kamu lihat, Yang Kung sehat-sehat, tho.”
”Yang Kung kapan pulangnya?” timpal Wiji memberanikan diri. ”Udah lama nih, Eyang nggak boncengin aku naik sepeda.”
”Eh, iyaya. Insya Allah ya, sebentar lagi Yang Kung pulang….”
”Bener, Yang? Kapan?” potong Mentes antusias.
Ann tersenyum namun dia tak suka dengan jawaban Eyang Kung yang penuh janji pada anak-anaknya.
”Nanti Eyang kabarin, deh. Makanya doain Eyang, ya.” pinta Eyang Kung.
”Eyang Kung kok pake batik, emang mau kondangan ke mana?” tanya Wiji polos.
Eyang Kung, Ann dan Mentes tertawa.
”Eyang lagi ada acara silaturahmi di dalam sana.”
Wiji manggut-manggut dan Eyang Kung mencoba mengalihkan pembicaraan.
”Sudah ada kabar tentang Satrio, Ann?” tanya Eyang Kung.
”Belum, Yang.”
”Ada dua minggu?”
”Lebih, Yang.”
”Sabar, ya.”
Ann mengangguk.
”Oh ya, ada kabar baik. Insya Allah tiga hari lagi Bapak bebas.”
Bagai ketiban bintang jatuh Ann mendengar kabar itu.
”Maksud Eyang?”
”Iya, tiga hari lagi Eyang sudah boleh pulang.”
”Bener, Yang???” desak Ann lagi. ”Kok waktu itu Eyang nggak bilang-bilang?”
Ann tak dapat menutupi kegembiraannya. Wajahnya kulihat begitu berbinar. Saking senangnya, diraihnya tangan Ayah Mertuanya itu, lalu ditarik dan diciuminya hingga wajah Eyang Kung pun maju dan melekat di jeruji besi yang membatasi pertemuan mereka. Ann seperti orang salah tingkah, hingga akhirnya dipeluknya Mentes dan Wiji.
***
Mentes mendorong pintu pagar dan Ann segera melajukan mobilnya ke dalam garasi. Dibiarkan kedua anaknya masuk lebih dulu ke dalam rumah, sementara dia masih memberesi kabin mobil dari kemasan makanan ringan yang tercecer, sembari membenahi barang bawaannya untuk dibawa turun.
Tiba-tiba terdengar teriakan histeris Mentes dan Wiji dari dalam rumah.
”Bapaaaaaaaaaaaaaak!!!” teriak Mentes.
”Ibuuuuuuuuuu…, Bapak pulang, Buuuuuuuuuuuuuuu!!!” pekik Wiji tak kalah melengking.
Ann kaget, gugup, senang, bingung dan haru. Semua lebur jadi satu. Bila beberapa waktu lalu ujian datang kepadanya bertubi-tubi, kini Ann merasa semua berganti mukjizat yang datang silih berganti. Jantung Ann berdegup dua kali lebih cepat. Di pintu masuk langkahnya terhenti, aku lihat Ann menatap diriku di sana. Melihat aku Satrio, Suami tercinta yang sedang memeluk kedua anaknya.
Ann seperti sedang bermimpi. Dia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ditatapnya aku dalam-dalam. Dicermatinya rambutku yang gondrong, juga kumis dan janggutku yang lebat, yang menutupi sebagian wajahku. Sekarang barulah Ann yakin bahwa Allah telah mengembalikan Suami dan Ayah bagi kedua anaknya itu.
”Subhanallah. Allahu Akbar!” ucap Ann lirih penuh syukur.
Kerinduan Ann mencair, air matanya pun mengalir diiringi suara televisi yang tengah menyiarkan maraknya penculikan.
Jakarta, pertengahan Mei 2011.
Langganan:
Postingan (Atom)
Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta
Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...
-
Kampung Lestari sedang dilanda musim Yoyo. Hampir di setiap sudut kampung banyak orang bermain Yoyo. Di rumah, di sekolah dan di jalan-jala...
-
Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...
-
Mensana in Corpore Sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Kalimat populer dari bahasa Latin ini, pernah dipatahkan Dai konda...