Minggu, 17 Januari 2016

Koleksi Yoyo Lanang

Kampung Lestari sedang dilanda musim Yoyo. Hampir di setiap sudut kampung banyak orang bermain Yoyo. Di rumah, di sekolah dan di jalan-jalan. Warga kampung Lestari seakan tersihir oleh Yoyo, mainan berbentuk bundar yang bisa berputar. Dalam waktu singkat mainan itu bukan hanya menarik minat anak-anak, tapi juga orang dewasa.
Demam main Yoyo pun menjalar ke keluarga Pak Wisnu. Lanang anak kedua Pak Wisnu  sampai-sampai punya lima Yoyo. Satu berukuran kecil yang bisa menyala dan  empat lainnya berukuran sedang. Semua Yoyo Lanang terbuat dari plastik. Tapi walaupun sudah punya lima Yoyo, Lanang masih merasa kurang. Dia masih kepingin Yoyo seperti punya teman-temannya. Bahkan anak kelas empat SD itu juga kepingin mengoleksi semua Yoyo yang ada di dunia!
Keinginan Lanang mengoleksi mainan, bukan kali ini saja. Dulu waktu musim mobil-mobilan mini misalnya, dia juga kepingin mengoleksi. Begitu juga waktu musim layang-layang, musim kartu bergambar superhero, musim kelereng dan masih banyak lagi musim mainan lainnya yang membuat dia selalu  saja ingin mengoleksi aneka mainan itu.
“Besok jadi kan Yah beli Yoyo kayunya?” tanya Lanang pada Ayahnya suatu malam.
“Waaah…, beli dimana, ya? Yoyo kayu kan sudah jarang yang jual,” kata Pak Wisnu.
 “Lanang…, tidak semua mainan kamu koleksi,” tegur Bu Wisnu, Ibunya Lanang mengingatkan. “Itu pemborosan, Nak.”
“Iya nih…, lagian buat apa sih banyak-banyak?” timpal Titis, kakak perempuan Lanang. “Paling nanti jadi sampah!” katanya lagi dengan nada ketus.
“Lanang kan belum punya Yoyo kayu, ‘Mba,” sahut Lanang membela diri.
“Sudah, sudah…,”  kata Pak Wisnu menengahi. “Besok Ayah lihat di pasar dekat kantor Ayah. Tapi janji ya, ini yang terakhir, setelah itu kamu tidak boleh lagi mengoleksi setiap mainan.”
“Lanang janji, deh!” ucap Lanang sambil mengangkat tangan kanannya.
“Dan jangan ikut-ikutan teman,” pesan Bu Wisnu. “Apa yang dimiliki temanmu, tidak harus kamu miliki juga.”
Keesokan harinya ketika Pak Wisnu pulang kerja, Lanang pun langsung menagih janji ayahnya.
“Yoyo kayunya ada, Yah?” tanya Lanang  tak sabar.
“Ada sayaaang…,” jawab Pak Wisnu sambil mengeluarkan kantong plastik hitam dari dalam tas.
           Waktu tangan Pak Wisnu merogoh tas dan mengeluarkan isinya, Lanang, Bu Wisnu dan Titis pun kaget bukan kepalang. Ya, mereka  takjub karena Yoyo yang Pak Wisnu beli selain banyak juga ukurannya lebih besar dari biasanya.
            “Waaah…, banyak sekali, Yah?!” kata Lanang takjub. “Besar besar, lagi.”
“Ini namanya Yoyo Jumbo,” jelas Pak Wisnu.
Bu Wisnu dan Titis pun terpana.
“Ini bukan untuk kamu semua, lho,” jelas Pak Wisnu lagi. “Tapi buat dibagi ke saudara-saudara sepupumu juga.”
 “Lanang ambil dua saja,” saran Bu Wisnu. “Besok kamu kasih ke Ade Bagas, Agla, Bilhaq, Alvin, Deo, Bima, Dimas dan Adit.”
Saat itu juga Lanang langsung memisahkan Yoyo Jumbo untuknya dan Yoyo Jumbo untuk saudara sepupunya.
“Ingat janjimu ya,” pinta Bu Wisnu lagi.
“Siap, Bu. Saya berjanji…, tidak akan mengoleksi mainan lagi…,” ucap Lanang sambil kembali mengangkat tangan kanannya.

Gelak tawa Pak Wisnu sekeluarga pun tak terbendung lagi. Tawa yang memecah keheningan malam dan menghangatkan ruang keluarga.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta

Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...