Kampung Lestari sedang dilanda musim
Yoyo. Hampir di setiap sudut kampung banyak orang bermain Yoyo. Di rumah, di sekolah
dan di jalan-jalan. Warga kampung Lestari seakan tersihir oleh Yoyo, mainan berbentuk
bundar yang bisa berputar. Dalam waktu singkat mainan itu bukan hanya menarik minat
anak-anak, tapi juga orang dewasa.
Demam main Yoyo pun menjalar ke keluarga
Pak Wisnu. Lanang anak kedua Pak Wisnu sampai-sampai
punya lima Yoyo. Satu berukuran kecil yang bisa menyala dan empat lainnya berukuran sedang. Semua Yoyo
Lanang terbuat dari plastik. Tapi walaupun sudah punya lima Yoyo, Lanang masih
merasa kurang. Dia masih kepingin Yoyo seperti punya teman-temannya. Bahkan anak
kelas empat SD itu juga kepingin mengoleksi semua Yoyo yang ada di dunia!
Keinginan Lanang mengoleksi mainan, bukan
kali ini saja. Dulu waktu musim mobil-mobilan mini misalnya, dia juga kepingin
mengoleksi. Begitu juga waktu musim layang-layang, musim kartu bergambar
superhero, musim kelereng dan masih banyak lagi musim mainan lainnya yang
membuat dia selalu saja ingin mengoleksi
aneka mainan itu.
“Besok jadi kan Yah beli Yoyo kayunya?” tanya
Lanang pada Ayahnya suatu malam.
“Waaah…, beli dimana, ya? Yoyo kayu kan sudah
jarang yang jual,” kata Pak Wisnu.
“Lanang…,
tidak semua mainan kamu koleksi,” tegur Bu Wisnu, Ibunya Lanang mengingatkan.
“Itu pemborosan, Nak.”
“Iya nih…, lagian buat apa sih
banyak-banyak?” timpal Titis, kakak perempuan Lanang. “Paling nanti jadi
sampah!” katanya lagi dengan nada ketus.
“Lanang kan belum punya Yoyo kayu, ‘Mba,”
sahut Lanang membela diri.
“Sudah, sudah…,” kata Pak Wisnu menengahi. “Besok Ayah lihat
di pasar dekat kantor Ayah. Tapi janji ya, ini yang terakhir, setelah itu kamu
tidak boleh lagi mengoleksi setiap mainan.”
“Lanang janji, deh!” ucap Lanang sambil
mengangkat tangan kanannya.
“Dan jangan ikut-ikutan teman,” pesan Bu
Wisnu. “Apa yang dimiliki temanmu, tidak harus kamu miliki juga.”
Keesokan harinya ketika Pak Wisnu pulang
kerja, Lanang pun langsung menagih janji ayahnya.
“Yoyo kayunya ada, Yah?” tanya
Lanang tak sabar.
“Ada sayaaang…,” jawab Pak Wisnu sambil
mengeluarkan kantong plastik hitam dari dalam tas.
Waktu
tangan Pak Wisnu merogoh tas dan mengeluarkan isinya, Lanang, Bu Wisnu dan Titis
pun kaget bukan kepalang. Ya, mereka
takjub karena Yoyo yang Pak Wisnu beli selain banyak juga ukurannya
lebih besar dari biasanya.
“Waaah…,
banyak sekali, Yah?!” kata Lanang takjub. “Besar besar, lagi.”
“Ini namanya Yoyo Jumbo,” jelas Pak Wisnu.
Bu Wisnu dan Titis pun terpana.
“Ini bukan untuk kamu semua, lho,” jelas Pak
Wisnu lagi. “Tapi buat dibagi ke saudara-saudara sepupumu juga.”
“Lanang
ambil dua saja,” saran Bu Wisnu. “Besok kamu kasih ke Ade Bagas, Agla, Bilhaq,
Alvin, Deo, Bima, Dimas dan Adit.”
Saat itu juga Lanang langsung memisahkan Yoyo
Jumbo untuknya dan Yoyo Jumbo untuk saudara sepupunya.
“Ingat janjimu ya,” pinta Bu Wisnu lagi.
“Siap, Bu. Saya berjanji…, tidak akan
mengoleksi mainan lagi…,” ucap Lanang sambil kembali mengangkat tangan kanannya.
Gelak tawa Pak Wisnu sekeluarga pun tak
terbendung lagi. Tawa yang memecah keheningan malam dan menghangatkan ruang
keluarga.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar