Selasa, 22 Desember 2015

Ubi untuk Ibu

Anisa baru saja pulang sekolah. Gadis mungil kelas enam SD itu mendapati rumahnya dalam keadaan kosong. Ya, sudah tiga hari ayah dan ibunya tidak di rumah. Ayah sedang menjaga ibu yang dirawat di salah satu rumah sakit  di Kota Bandung. Sementara Kakek Darma yang biasanya sudah pulang dari kebun, siang itu juga tak ada di rumah.
Rencananya nanti sore ayah dan ibunya Anisa pulang. Karena itu Anisa ingin sekali memberi kejutan untuk menyambut kedatangan ibunya. Apalagi hari ini bertepatan juga dengan Hari Ibu. Kira-kira apa ya, yang harus dia buat?
Kalau tadi di sekolah Bu Guru Ita memberi tugas membuat karangan dengan tema ibu. Tapi…, masa ibunya juga cuma dikasih karangan saja, pikir Anisa.  Sambil memikirkan ide untuk menyambut kedatangan ibunya, Anisa mencoba mencari Kakek Darma lagi ke sekeliling rumah. Dia masih penasaran, siapa tahu kakeknya sudah pulang. Semua ruangan di rumah pun dimasuki, tapi ternyata kakek memang tak ada di rumah.
Tanpa menunda waktu Anisa pun langsung bergegas ke kebun milik Kakek Darma. Kebun itu  terletak di atas bukit,  jaraknya lebih kurang satu kilometer dari rumahnya. Dia berharap di sana bisa menemui kakek dan juga dapat ide untuk menyambut kedatangan ibu.
Langkah kecil Anisa begitu gesit, melesat di jalan kampung serta bukit terjal yang masih berupa tanah dan bebatuan. Sesampainya di kebun Kakek Darma, tampak hamparan aneka pohon umbi-umbian yang luas.  Selain Kakek Darma yang terlihat jauh di ujung sana, bersamaan itu Anisa juga mendapat ide untuk menyambut kedatangan ibu yang sangat dicintainya. Ya, dia akan memasak ubi merah untuk ibu!
“Kakeeee….” teriak Anisa memecah keheningan.
Kakek Darma menoleh ke arah sumber suara. Dengan setengah  berlari beliau segera menghampiri dan memeluk cucunya.
“Cucuku…, maaf ya, Kakek belum sempat pulang,” kata Kakek Darma.
“Tidak apa-apa, Kek. Aku sudah berani sendirian di rumah,” sahut Anisa.
”Ibumu sudah pulang?” tanya Kakek Darma.
“Belum, Kek.”
“Kok kamu nyusul Kakek ke sini?”
“Aku kan sudah lama tidak ke kebun ini,” ungkap Anisa.
Kakek Darma manggut-manggut.
“O iya Kek, aku boleh minta ubinya untuk aku masak?” lanjut Anisa lagi.
“Tentu saja boleh, sayang.”
Sambil dibantu Sang Kakek, tangan mungil Anisa kemudian mencabut dan mengumpulkan beberapa ubi merah untuk dibawa pulang.
Sesampai di rumah ubi-ubi itu pun lalu dibersihkan dan dimasak Anisa, seperti yang pernah diajarkan ibunya. Sementara tak jauh dari situ, Kakek Darma terlihat asik merebahkan badan di atas balebale bambu sambil mengawasi cucunya.
Tak terasa senja pun tiba. Anisa yang baru selesai mandi lalu memastikan ubi merah yang dimasaknya sudah matang. Setelah yakin ubi merahnya matang, dengan sigap dia pun menempatkan ubi itu ke dalam wadah dan menghidangkannya di meja makan.
Tak lama kemudian, ayah dan ibu Anisa pun datang. Anisa tak dapat menyembunyikan rasa senangnya, dia langsung lari menyambut dan memeluk ibu yang saat itu dipapah ayah.
“Ibuuu…, sekarang aku sudah bisa masak ubi merah kesukaan ibu,” kata Anisa sambil menunjuk ke meja makan.
Ayah, ibu dan Kakek Darma pun tersenyum. Mereka tampak haru dan bangga melihat apa yang dilakukan Anisa.


*****

Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta

Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...