Suster
Diana dan Suster Rita masih melayani istri saya Ann di salah satu ruang di
klinik bersalin, tempat saya biasa
memeriksakan kehamilannya selama ini. Sementara saya masih dengan hati cemas
menunggu di luar. Buat saya, Ann lahir sekarang atau nanti sama saja. Bikin
saya nervous. Maklum saya baru mau
jadi Ayah.
Seumur
hidup baru kali ini loh saya galau banget. Padahal dua tahun lalu pas mau ijab
kabul, ngga sedikit pun tuh saya galau.
Tapi sekarang, ngga tau kenapa
pas isteri saya mau melahirkan, justru saya yang khawatirnya banget-banget. Apa
karena ini anak pertama, ya? Tapi herannya istri saya malah biasa-biasa aja,
tuh.
Di
momen ini, Tuhan sepertinya lagi nunjukkin ke saya betapa besarnya pengorbanan
Emak dulu waktu ngelahirin saya. Menurut Emak, waktu itu prosesnya susah
banget. Bener-bener pertaruhan hidup dan mati. Di momen ini juga, Tuhan sepertinya lagi ngingetin saya, kalau dosa saya itu gede
banget sama Emak. Pasalnya, kata orang-orang,
waktu saya masih lajang bandelnya ngga ketulungan. Intinya sering bikin
repot, juga bikin pusing Emak. Dan sekarang, istri saya mau melahirkan. Kalau
inget itu hati saya kok jadi makin ciut, ya. Ampun, deh.
Setelah
nunggu beberapa menit, Ann dengan ranjang beroda keluar dari kamar, didampingin
Suster Diana dan Suster Rita menuju ruang perawatan.
“Kira-kira
kapan ya, Sus, isteri saya melahirkannya?”
“Ini
baru bukaan satu, Pak, masih lama.”
“Masih
lamanya kapan, Sus?”
“Mungkin
baru nanti malam. Bapak sabar aja.”
“Nanti
malam, Sus?”
“Iya,
Pak, nanti malam.”
“Padahal
prediksi dokter Endang bulan depan….”
“Bulan depan???”
Wajah Suster Diana dan Suster Rita tampak
keheranan.
“Ah,
Bapak ada-ada aja. Kan sudah keluar bercak, Pak.”
“Oooohh…,
maklum deh, Sus, saya kan belum pengalaman melahirkan. Eh, maksud saya, istri
saya belum pernah melahirkan.”
“Apa
Ibu mau dibawa pulang dulu, Pak?”
“Ah,
suster ada-ada aja….”
Biar
pun waktu melahirkan masih lama, pagi itu saya memutuskan untuk ngedampingin
Ann di klinik ini. Selain menelpon ke kantor, saya juga ngabarin Emak, Bapak
dan juga Bapak Ibu mertua saya di
kampung untuk mohon doa dari mereka.
Khusus pada Emak, selain request
doa, saya juga minta maaf yang setulus-tulusnya.
Hingga
akhirnya malam pun datang dan waktu melahirkan semakin dekat. Dokter Endang
yang sempat pulang sehabis praktek, jelang tengah malam datang lagi ke klinik
ini untuk melakukan proses kelahiran anak pertama saya.
Sambil
nunggu saya jadi teringat lagi pesan Emak waktu di telpon tadi. Pasrahkan
semuanya pada Tuhan dan berdoalah. Ya, memang cuma itu yang bisa saya lakukan.
Sampai
akhirnya saat-saat menegangkan berlalu dan cenger
bayi pun terdengar nyaring menembus dinding. Saya yang dari tadi duduk menunggu dengan sabar
dan penuh doa, spontan bangkit siap menyambut kelahirannya.
Itu
anak saya. Ya, yang menangis itu anak saya! Kebahagiaan saya membuncah. Apalagi
waktu Suster Diana keluar dari kamar
persalinan bersama Si Bayi lalu menunjukkannya ke saya. Alhamdulillah…, proses
melahirkan berjalan lancar dan normal.
“Ini
anak saya, Sus?!” tanya saya meminta penegasan.
Ngga
tahu kenapa pertanyaan itu yang meluncur. Mungkin saking bahagianya kali, ya,
saya jadi grogi. Padahal saya tahu, di klinik ini cuma istri saya yang
melahirkan. Nggak ada yang lain.
Saya
cermati bayi mungil itu dan saya takjub luar biasa. Subhanallah…, dia putih dan
menggemaskan. Beda banget loh kulitnya sama Ibunya yang putih tapi ngga
putih-putih amat, apalagi sama saya Ayahnya yang cenderung putih tua. Hehehe….
Sekarang
perasaan saya sudah plong. Terima kasih
Tuhan, saya dikasih kepercayaan. Dia perempuan dan lahir dengan selamat. Mulai
sekarang saya sudah sah jadi Ayah.
“Terima
kasih, ya, Sus.”
“Sama-sama,
Pak. Oya, tadi lehernya sempet kelilit usus, lho, Pak.”
“Kalung usus, maksud Suster?!”
“Iya, Pak.”
“Ehmmmm…,
pantes anak saya keliatan putih banget, ya.”
“Tapi
kata orang-orang, bayi yang kalung usus itu dipakein baju apa aja pantes, lho,
Pak.”
“Ah, Suster ada ada aja.”
Suster
Diana tersenyum.
“Permisi,
Sus, mending juga saya Azanin, dulu.”
***

