“Sigana
mah rek hujan yeuh, kumaha ari isukan wae ka Cibeo, na?” (Sepertinya
mau hujan nih, bagaimana kalau besok saja ke Cibeo-nya?) Begitu saran Jaya, sahabat
saya yang tinggal di Kampung Kadujangkung, Baduy Luar, Desa Kanekes, Kecamatan
Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sewaktu saya dan Erwin teman
sekantor saya minta diantar ke Cibeo, Baduy Dalam.
Sore itu saat kami tiba di
Kadujangkung jam menunjukkan pukul empat lewat dua puluh lima menit. Saya pikir
tak mungkin juga meneruskan perjalanan ke Cibeo, selain sudah terlalu sore, kondisi
fisik pun lelah. Akhirnya kami memutuskan beristirahat dan bermalam di kampung
ini. Beberapa menit kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Sore itu saya
melepas lelah di teras rumah panggung orang Baduy Luar, ditemani kopi panas dan
singkong rebus yang disuguhkan tuan rumah.
Ternyata hujan turun tidak terlalu
lama seperti perkiraan saya. Mumpung langit belum gelap, saya nikmati sepotong senja
sambil keliling kampung. Suasana tenang dan damai menyelimuti perkampungan di
Baduy yang berada di lereng-lereng bukit dengan ketinggian tanah berbeda-beda. Tumpukan-tumpukan
batu kali terlihat di banyak tempat, di permukaan jalan tanah yang
menghubungkan rumah satu dengan rumah lainnya.
Ketika saya melintas di antara
rumah-rumah penduduk, sisa air hujan masih menetes dari atap-atap rumah mereka yang terbuat dari Rumbia
daun pohon Kiray, sejenis pohon Sagu.
Rumah-rumah di perkampungan Baduy Luar semua
sama. Konstruksinya dibuat dari kayu dan bambu, dinding rumahnya dari anyaman bambu dan lantainya dibuat dari Palupuh, bambu yang dibentuk menjadi lembaran. Bahan
bangunannya seratus persen bersumber dari bahan alami yang mudah didapat di lingkungan
sekitar dan tentu saja ramah lingkungan.
Untuk membangun rumah mereka tidak
diperkenankan mengubah kontur tanah dan menggunakan unsur logam. Adapun ikatan
penyatu antara kayu dan bambu yang mereka gunakan yaitu dengan pasak dan ikatan ijuk. Oya, mereka juga dilarang memasang pasak ke dalam tanah, jadi hanya
menumpuk batu-batuan di dekat tiang-tiang utama sebagai pondasi dan rumah akan dibangun
di atas bebatuan itu.
Langit semakin memerah dan mulai beranjak gelap. Kini kami menyatu dalam pelukan
malam yang romantis. Dengan penerangan lampu minyak kelapa, kami menikmati Sentir Light Dinner sederhana; nasi ikan
asin dan sayur ala Baduy. Ya, aturan adat Baduy memang tidak membolehkan aliran
listrik masuk ke wilayah mereka. Tapi diluar dugaan, malam itu di tengah
keluarga Jaya kami mendapat bonus suguhan istimewa berupa orkestrasi tembang
Sunda gaya Baduy. Jaya Si Tuan Rumah memainkan Biola, Ayah Mertuanya memainkan
Kecapi, sedangkan Gambang dan Gong dimainkan oleh salah seorang tetangga mereka.
Sungguh pertunjukan musik nan eksotik, dalam gulitanya malam di tengah kampung
yang sederhana.
Malam berlalu dan tak terasa fajar
pun telah menyingsing. Alunan musik semalam rupanya berhasil mengusir dingin
dan membius kami hingga terbuai di alam mimpi. Pagi ini sebelum memulai perjalanan menuju
Cibeo, kami segera berkemas dan menikmati sarapan yang telah disiapkan oleh
tuan rumah. Lagi-lagi satu penghormatan dari keluarga Baduy Luar yang membuat
kami terharu.
Di luar kabut masih menggelayut
di antara rerimbunan pohon bambu. Saat meninggalkan Kadujangkung kami awali
langkah dengan penuh semangat. Selangkah demi selangkah kami menapakkan kaki
pada tanah merah yang basah sisa hujan
kemarin. Namun belum jauh rasanya kaki ini melangkah, bukit terjal sudah
menghadang. Saya coba mengatur nafas yang mulai tersengal. Sementara keringat
sudah mulai membasahi sekujur tubuh. Saya lihat di tanjakan licin Erwin dengan sangat
hati-hati menapakkan kakinya agar tak terpeleset.
Dibanding dengan masyarakat
Baduy, jelas kekuatan gerak langkah kaki kami tak seujung kuku mereka. Suku
Baduy yang sejak dulu tidak beralas kaki dan tak mengenal alat transportasi, ini
menjadikan berjalan kaki adalah satu-satunya cara mereka menuju ke satu tempat.
Karena itu tak heran bila hidup mereka sehat. Di Baduy jangankan mobil, sepeda
pun tak ada. Karenanya jangan berharap bisa melihat jalan aspal meskipun hanya
sepenggal. Di sana semua serba alami, termasuk jembatan penyeberangan pun terbuat
dari bahan alami bambu dan ijuk sebagai pengikatnya.
Tak terasa sudah tiga jam kami berjalan. Hampir tiga per-empat
perjalanan sudah kami tempuh. Beberapa kampung dan perbukitan hijau yang
lumayan terjal di Baduy Luar pun telah kami lalui. Di bawah pepohonan yang
rindang saya dan Erwin beristirahat sejenak. Sambil melepas lelah kami
mengamati beberapa Leuit, lumbung
padi kolektif khas Baduy yang wajib dimiliki oleh setiap keluarga di sana. Bagi
suku Baduy, Leuit bukan sekadar
tempat menyimpan hasil panen padi bersama, tapi juga memiliki filosofi
berhemat, bersahaja dan tidak rakus. Filosofi ini merupakan pencerminan dari
sifat masyarakat Baduy yang tidak pernah berlebihan dalam segala hal.
Mengunjungi Baduy yang terletak
lebih kurang 120 Kilometer dari Jakarta, bukan sekadar perjalanan biasa atau pun
pelarian dari keruwetan di Ibukota. Bagi saya Baduy adalah wisata pembelajaran
tentang bagaimana kita seharusnya memperlakukan alam dan lingkungan. Sedangkan
menurut teman saya Erwin, Baduy bukan tempat wisata bernyaman-nyaman tapi wisata
budaya, tempat merenungkan kembali tentang budaya.
Matahari semakin meninggi. Di
sini di Bumi Baduy kami sangat menikmati alam dengan udara segarnya, sungai
jernih dengan gemericik airnya serta kicau burung-burung liar. Dari kejauhan
nampak puncak bukit Pagelaran yang rimbun dengan hutan lindungnya.
“Di
dieu geus teu meunang moto deui, nya, (Di sini tidak boleh motret
lagi, ya),” tegur Jaya mengingatkan saya yang lupa dan bermaksud memotret Erwin
dengan latar belakang pemandangan menakjubkan. Saat itu juga saya langsung
memasukkan kamera ke dalam ransel.
Menjelang bukit Pagelaran yang
terjal, beruntung kami masih menyimpan semangat
ekstra. Medan yang lumayan berat pun akhirnya
berhasil kami lalui. Setelah itu
barulah kami bisa sedikit bernafas lega saat menuruni punggung bukit Pagelaran
menuju Kampung Cibeo yang ada di dasar lembah, namun belum juga terlihat karena
tertutup oleh rimbunnya pepohonan.
Di tengah perbukitan pegunungan Kendeng yang terpencil dengan
udara bersih, segar, kaya oksigen dan tak banyak terusik kebudayaan luar, warga
Baduy Dalam hidup dengan tradisi sesuai adat serta kepercayaan yang mereka
yakini. Warga Baduy Dalam tinggal di tiga kampung terpisah; Cibeo dan
Cikertawana yang berdekatan serta di Cikeusik yang jauh di ujung selatan
kawasan Baduy.
Sampai saat ini warga Baduy
Dalam tetap setia memegang teguh aturan adat leluhur diantaranya tidak
menggunakan alas kaki, tidak menggunakan alat transportasi dan tidak
menggunakan alat elektronik apapun. Sehari-harinya mereka hanya mengenakan
pakaian hitam atau putih yang ditenun dan dijahit sendiri, serta dilengkapi
dengan kain ikat kepala warna putih untuk laki-laki dan menjalankan semua hal yang
berkaitan dengan alam.
Memasuki jembatan bambu khas
Baduy barulah terlihat perkampungan Cibeo yang sepi dan terkesan penuh misteri.
Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Jaya pun menjelaskan kalau
sebagian besar warga masih berada di ladang dan huma. Tapi di kampung yang dihuni lebih kurang
sembilan puluh Kepala Keluarga ini, kami tetap bisa menemui dua sampai tiga
orang warga yang bertugas ronda, menjaga kampung dari kemungkinan bahaya
khususnya bahaya kebakaran. Meskipun mereka berbahasa Sunda dengan dialek
Banten, tapi mereka tidak canggung sedikit pun berbahasa Indonesia.
Secara umum ciri kehidupan Suku
Baduy Dalam dan Baduy Luar sama. Mereka hidup berdampingan secara damai dan
selaras dengan alam sekitar. Namun aturan adat di Baduy Dalam lebih ketat. Kita
dilarang memotret dan menggunakan alat elektronik lainnya, dilarang menggunakan
perlengkapan mandi seperti sabun, pasta gigi dan sampo. Bahkan kita juga
dilarang merokok. Selain itu pada bulan Kawalu
yaitu masa panen yang berlangsung selama Februari sampai April, wilayah
Baduy Dalam juga dilarang untuk dikunjungi orang luar.
Masyarakat Baduy Dalam sangat
menjaga alam dan lingkungannya. Salah satunya menjaga sungai Ciparahiyang yang
jernih, dengan melarang penggunaan perlengkapan mandi yang mengandung bahan
kimia. Selain dapat mencemari sungai juga melanggar adat. Apalagi letak
geografis Baduy Dalam di atas bukit dan di hulu sungai, dimana air sungai Ciparahiyang
selanjutnya akan bermuara ke Sungai Ciujung dan mengalir ke kampung-kampung di Baduy
Luar, bahkan hingga ke Rangkasbitung. Menurut mereka bila di hulunya tidak
dijaga, maka ekosistem di sepanjang aliran sungai selanjutnya akan tercemar.
Kepedulian masyarakat Baduy
terhadap lingkungan tercermin dalam Pikukuh
atau aturan adat yang kuat. Salah satu Pikukuhnya
adalah;
”Gunung teu meunang dilebur
Lebak teu meunang dirusak
Larangan teu meunang dirempak
Buyut teu meunang dirobah
Lojor teu meunang dipotong
Pondok teu meunang disambung”
(Gunung tidak boleh dihancurkan
Lembah tidak boleh dirusak
Larangan tidak boleh dilanggar
Amanat tidak boleh diubah
Panjang tidak boleh dipotong
Pendek tidak boleh disambung).
Di Kampung Cibeo yang merupakan
jantungnya Baduy Dalam, selanjutnya Jaya membawa saya dan Erwin ke salah satu
rumah yang akan menjadi tuan rumah kami. Setelah beristirahat sejenak dan
beramah tamah dengan beberapa warga, kemudian kami memutuskan untuk segera menikmati
sensasi mandi di sungai Ciparahiyang yang jernih dengan bebatuan alam dan tanpa
sabun tentunya. Berendam membersihkan diri dan menyegarkan badan setelah lelah
beberapa jam naik turun perbukitan.
Usai mandi badan bersih dan
segar kembali. Kini giliran perut kami yang menuntut. Dengan bekal nasi bungkus
yang dibawa Jaya, ditambah mi instan dan kornet dari bekal kami yang dimasak
oleh tuan rumah, dalam sekejap hidangan itu ludes kami santap. Inilah nikmat
makan yang sesungguhnya. Disaat lelah dan lapar mendera, meski dengan menu
sederhana kelezatannya jadi luar biasa. Apalagi kemudian disusul sajian kopi
panas dengan gula aren dalam gelas bambu
khas Baduy yang disuguhkan tuan rumah, sungguh menjadi sajian penutup penuh
kenikmatan yang tak terbantahkan.
Sementara di luar sana suasana
Kampung Cibeo begitu terasa tenang dan tenteram. Jauh dari polusi dan
kebisingan. Meski dalam balutan kesederhanaan, lingkungannya sangat tertata
apik dan resik. Menyusuri lorong-lorong kecil di antara rumah-rumah panggung di
Cibeo, ada keasyikkan tersendiri. Puas berkeliling di Cibeo, dengan ditemani dua
pemuda setempat kami memutuskan untuk mampir ke Cikertawana, kampung terdekat
yang ada di Baduy Dalam lainnya.
Seperti juga di Cibeo, di
Cikertawana suasananya tak jauh berbeda. Sepi. Kampung yang dihuni lebih kurang
lima puluh Kepala Keluarga, ini juga sarat dengan kesederhanaan. Di Cikertawana
kami disambut dua lelaki yang sedang ronda sembari membakar kayu. Bermodal
bahasa Sunda sedikit-sedikit, saya pun mencoba membagun obrolan dengan mereka. Hasilnya
tidak sia-sia. Salah seorang diantara mereka menawari kami pisang bakar. Hehehe…. Tapi sayang
keakraban itu hanya sebentar karena terganggu cuaca yang berubah drastis. Langit
mendadak mendung, gerimis pun turun. Sebelum hujan deras kami pamit kembali ke
Cibeo, tanpa sempat menikmati pisang bakarnya.
Tiba kembali di Cibeo senja pun
berlalu dan malam datang begitu cepat. Gelap. Saya, Erwin, Jaya dan beberapa
warga Cibeo yang sedang santai mengobrol di luar dipersilakan masuk oleh tuan
rumah. Obrolan berlanjut di dalam rumah dengan penerangan lampu minyak. Dengan
pandangan samar-samar, malam itu obrolan kami seru dan mengasyikkan. Apalagi setelah
beberapa tetangga dan salah satu tokoh Kampung Cibeo ikut bergabung. Suasananya
makin akrab dan terbuka.
Obrolan kami awalnya hanya cerita
seputar keluarga masing-masing. Tapi dari beberapa pertanyaan dan jawaban yang mereka
lontarkan, di balik kesederhanaannya mereka orang-orang yang cerdas. Masyarakat
Baduy Dalam yang tak mengenal baca-tulis, ternyata mengikuti perkembangan dunia
luar. Saya dan Erwin sempat kaget ketika Jaro Sami, Tokoh Kampung Cibeo bertanya
berapa total biaya yang dikeluarkan orangtua untuk menyekolahkan anak di kota,
mulai dari sekolah dasar sampai sekolah tinggi dan siap bekerja lepas dari
tanggungan orangtua?
Terus terang saya dan Erwin
tidak siap dengan jawaban yang tepat dan logis. Akhirnya Erwin
berinisiatif mengajak kami yang hadir di
sana menghitung bersama-sama sampai ketemu angka sekian puluh juta rupiah.
Selain pertanyaan yang
membutuhkan perhitungan rumit tadi, tak kalah serunya adalah waktu mereka
bertanya berapa istri Erwin? Hahaha… Ketika dengan sigap teman saya itu
menjawab bahwa dia juga menganut prinsip yang sama seperti orang Baduy Dalam,
mereka tertawa puas. Ya, orang Baduy memang menerapkan aturan adat perkawinan
monogami yang ketat.
Malam rasanya semakin cepat
merangkak. Sebenarnya kami masih ingin berbagi cerita, begitu juga mereka, tapi
apa daya kantuk sudah tak tertahankan lagi. Malam itu akhirnya kami sepakat menutup
obrolan dan segera beristirahat.
Bermalam di Baduy Dalam meski hanya
diijinkan semalam, namun banyak memberi pelajaran yang sangat berarti bagi kami.
Sikap hidup sederhana, bersahabat dengan alam dan yang alami serta semangat
kemandirian.
*****