Aku adalah satu dari belasan juta petualang hidup yang
memadati kota. Hari-hariku boros air, listrik, tisu dan kantong plastik. Mobilku
juga, dia satu dari jutaan kendaraan bermotor yang banyak menenggak bensin, bikin
macet dan menyebarkan polusi ke langit kota.
Di akhir pekan aku adalah satu dari ribuan orang
yang sering ke pusat perbelanjaan. Keluar masuk puluhan toko yang terang
benderang disinari cahaya lampu. Lalu keluar dari sana menjinjing kantong-kantong plastik beraneka rupa
dan warna.
Di sana juga aku memanjakan diri ke salon, yang
aroma bahan kimia perawatan rambutnya tercium sejak di pintu masuk. Aku juga ke
cafe serta restorannya yang menyediakan tisu dan sumpit sekali pakai. Rangkaian
petualanganku kemudian berakhir di toiletnya yang lumayan mewah, dengan fasilitas
air dan tisu yang berlimpah.
Hari-hariku sebagai petualang hidup dilengkapi dua
telepon genggam, satu tablet dan satu laptop. Selain untuk mendukung bisnis, aku
pakai juga untuk berselancar di dunia
maya dan eksis di berbagai media sosial.
Itulah penggalan kecil petualangan hidupku yang mungkin
mewakili para petualang hidup lainnya di kotaku. Itu belum seberapa, masih
banyak penggalan petualangan hidup lainnya yang lebih menyesakkan dada.
Sebenarnya aku ingin menceritakannya, tapi seorang
teman keburu mengajakku berpetualang ke Baduy, satu etnis di Pegunungan
Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Makanya tanpa pikir panjang aku terima ajakan
itu. Bagiku inilah saatnya menjungkirbalikkan petualangan hidupku seratus
delapan puluh derajat. Dan Baduy adalah tempat yang tepat!
Di Baduy aku rela hidup tanpa listrik, gadget, internet,
mobil, buku, salon, cafe, restoran, musik dan kertas tisu. Semua yang serba
modern. Tiga kali duapuluh empat jam aku akan hidup di lingkungan masyarakat tradisional
yang sangat memegang teguh amanat leluhurnya. Tempat yang cocok untuk berkontemplasi.
Dengan kondisi geografis berbukit-bukit, mau ke kampung
manapun di Baduy aku harus berjalan kaki. Untuk sampai ke rumah kenalanku di Kadujangkung,
Baduy Luar, perlu tiga puluh sampai empat puluh lima menit dari Ciboleger, desa
yang berbatasan langsung dengan Baduy Luar. Apalagi mau ke Cibeo, Baduy Dalam, setidaknya
butuh empat sampai lima jam.
Baru beberapa menit jalan di bukit yang terjal, nafasku
sudah tersengal-sengal. Maklum kelamaan
di kota, jadi manja. Di Baduy, baru mengawali petualangan hidup tubuhku sudah basah
kuyup. Memasuki Kadujangkung, aku rasakan sepi menembus relung hati.
Kulihat matahari sebentar lagi tenggelam dan malam bersiap datang.
Dalam kegelapan malam, di sini aku belajar jadi
penikmat senyap. Dipeluk hangatnya keremangan
lentera, di tengah keluarga Suku Baduy. Malam itu dengan tulus mereka sajikan
hidangan sederhana. Tapi aku merasa sangat istimewa.
Malam berlalu berganti pagi. Di Baduy Luar, sabun
mandi, sampo dan pasta gigi masih boleh aku pakai. Tapi di Baduy Dalam nanti, ketiga
pembersih itu dilarang. Karena menurut mereka akan mencemari sungai.
Setelah menempuh perjalanan jauh dan melepas lelah
sambil bersilaturahmi dengan para sesepuh di Cibeo, mandi di sungai jadi sensasi
tersendiri. Airnya jernih, dasar sungainya kelihatan dan alirannya pun tak
terlalu deras. Aku berendam bersama batu-batu alam yang sebelumnya telah kususun
membentuk bak mandi. Di sini petualangan hidup jadi lebih hidup. Petualangan
hidupku sedang berubah seratus delapan puluh derajat! Sesekali mandi tanpa sabun,
sampo dan pasti gigi, okelah. Hahaha….
Aku berada di lingkungan yang sangat dijaga.
Pohon-pohon besar dilindungi oleh pemuka-pemuka adat dan segenap rakyatnya yang
taat. Begitu juga hutan-hutan mereka. Di sini tak ada penebangan pohon semena-mena.
Mereka sangat menjaga amanah yang diantaranya; gunung tak boleh dihancurkan,
lembah tak boleh dirusak dan larangan tak boleh dilanggar.
Di Baduy aku hidup di tengah petualang-petualang
hidup yang suka bekerja keras. Di ladang-ladang dan huma semua orang bekerja,
juga anak-anak mereka. Persediaan pangan pun jadi senantiasa tercukupi. Padi tersimpan
aman dalam Leuit, gudang penyimpanan padi
mereka.
Di Baduy aku banyak belajar. Belajar banyak hal
tentang petualangan hidup yang terlalu panjang untuk aku ceritakan di sini.
Tapi intinya, aku belajar menjalani dan memaknai petualangan hidup yang penuh
kesederhanaan serta kebajikan.
Baik atau buruk, hidup memang petualangan. Tapi
bagaimana pun aku harus menentukan pilihan.
*****
