Kamis, 04 Desember 2014

Hidup Adalah Petualangan


Aku adalah satu dari belasan juta petualang hidup yang memadati kota. Hari-hariku boros air, listrik, tisu dan kantong plastik. Mobilku juga, dia satu dari jutaan kendaraan bermotor yang banyak menenggak bensin, bikin macet dan menyebarkan polusi ke langit kota.
Di akhir pekan aku adalah satu dari ribuan orang yang sering ke pusat perbelanjaan. Keluar masuk puluhan toko yang terang benderang disinari cahaya lampu. Lalu keluar dari sana  menjinjing kantong-kantong plastik beraneka rupa dan warna.
Di sana juga aku memanjakan diri ke salon, yang aroma bahan kimia perawatan rambutnya tercium sejak di pintu masuk. Aku juga ke cafe serta restorannya yang menyediakan tisu dan sumpit sekali pakai. Rangkaian petualanganku kemudian berakhir di toiletnya yang lumayan mewah, dengan fasilitas air dan tisu yang berlimpah.
Hari-hariku sebagai petualang hidup dilengkapi dua telepon genggam, satu tablet dan satu laptop. Selain untuk mendukung bisnis, aku pakai juga untuk  berselancar di dunia maya dan eksis di berbagai media sosial.
Itulah penggalan kecil petualangan hidupku yang mungkin mewakili para petualang hidup lainnya di kotaku. Itu belum seberapa, masih banyak penggalan petualangan hidup lainnya yang lebih menyesakkan dada.
Sebenarnya aku ingin menceritakannya, tapi seorang teman keburu mengajakku berpetualang ke Baduy, satu etnis di Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Makanya tanpa pikir panjang aku terima ajakan itu. Bagiku inilah saatnya menjungkirbalikkan petualangan hidupku seratus delapan puluh derajat. Dan Baduy adalah tempat yang tepat!
Di Baduy aku rela hidup tanpa listrik, gadget, internet, mobil, buku, salon, cafe, restoran, musik dan kertas tisu. Semua yang serba modern. Tiga kali duapuluh empat jam aku akan hidup di lingkungan masyarakat tradisional yang sangat memegang teguh amanat leluhurnya. Tempat yang cocok untuk berkontemplasi.
Dengan kondisi geografis berbukit-bukit, mau ke kampung manapun di Baduy aku harus berjalan kaki. Untuk sampai ke rumah kenalanku di Kadujangkung, Baduy Luar, perlu tiga puluh sampai empat puluh lima menit dari Ciboleger, desa yang berbatasan langsung dengan Baduy Luar. Apalagi mau ke Cibeo, Baduy Dalam, setidaknya butuh empat sampai lima jam.
Baru beberapa menit jalan di bukit yang terjal, nafasku sudah tersengal-sengal.  Maklum kelamaan di kota, jadi manja. Di Baduy, baru mengawali petualangan hidup tubuhku sudah basah kuyup. Memasuki Kadujangkung, aku rasakan sepi menembus relung  hati.  Kulihat matahari sebentar lagi tenggelam dan malam bersiap datang.
Dalam kegelapan malam, di sini aku belajar jadi penikmat senyap. Dipeluk  hangatnya keremangan lentera, di tengah keluarga Suku Baduy. Malam itu dengan tulus mereka sajikan hidangan sederhana. Tapi aku merasa sangat istimewa.
Malam berlalu berganti pagi. Di Baduy Luar, sabun mandi, sampo dan pasta gigi masih boleh aku pakai. Tapi di Baduy Dalam nanti, ketiga pembersih itu dilarang. Karena menurut mereka akan mencemari sungai.
Setelah menempuh perjalanan jauh dan melepas lelah sambil bersilaturahmi dengan para sesepuh di Cibeo, mandi di sungai jadi sensasi tersendiri. Airnya jernih, dasar sungainya kelihatan dan alirannya pun tak terlalu deras. Aku berendam bersama batu-batu alam yang sebelumnya telah kususun membentuk bak mandi. Di sini petualangan hidup jadi lebih hidup. Petualangan hidupku sedang berubah seratus delapan puluh derajat! Sesekali mandi tanpa sabun, sampo dan pasti gigi, okelah. Hahaha….
Aku berada di lingkungan yang sangat dijaga. Pohon-pohon besar dilindungi oleh pemuka-pemuka adat dan segenap rakyatnya yang taat. Begitu juga hutan-hutan mereka. Di sini tak ada penebangan pohon semena-mena. Mereka sangat menjaga amanah yang  diantaranya; gunung tak boleh dihancurkan, lembah tak boleh dirusak dan larangan tak boleh dilanggar.
Di Baduy aku hidup di tengah petualang-petualang hidup yang suka bekerja keras. Di ladang-ladang dan huma semua orang bekerja, juga anak-anak mereka. Persediaan pangan pun jadi senantiasa tercukupi. Padi tersimpan aman dalam Leuit, gudang penyimpanan padi mereka.
Di Baduy aku banyak belajar. Belajar banyak hal tentang petualangan hidup yang terlalu panjang untuk aku ceritakan di sini. Tapi intinya, aku belajar menjalani dan memaknai petualangan hidup yang penuh kesederhanaan serta kebajikan.
Baik atau buruk, hidup memang petualangan. Tapi bagaimana pun aku harus menentukan pilihan.

*****





Emut Emut Si Purple Fruit





Tau buah Jamblang? Pernah lihat atau paling ngga pernah denger namanya? Buat sebagian anak  yang tumbuh di era delapan puluhan, hampir pasti kenal buah ini. Buah Jamblang atau Jambu Keling atau Duwet bentuknya elip, ukurannya maksimal sebesar jempol orang dewasa. Warnanya ungu dan rasanya asem-asem sepet. Semakin tua warnanya semakin ungu kehitam-hitaman. Tapi biar pun matang, hampir nggak pernah tuh saya merasakan manisnya buah ini.
Waktu kecil saya inget banget, buah Jamblang dijual di kotak  kayu dengan sebidang kaca di bagian depannya.  Oleh Si penjual buah ini ditaruh dan ditindih es batu. Harga per-bungkusnya kalau nggak salah Rp 50,- isinya 6 sampai 7 buah. Sebelum dinikmati konsumennya,  biasanya Si Abang  menaburkan gula pasir lebih dulu. Maksudnya jelas buat ngimbangin rasanya yang asem dan sepet itu.
Selain Jamblang waktu itu populer juga beberapa buah lain. Sebut saja Lobilobi, Buni dan Gowok. Berbeda dengan Jamblang, ketiga buah ini biasanya dibawa pedagang rujak potong dan juga rujak serut. Tapi belakangan mereka juga makin jarang bawa.  Mungkin karena memang semakin langka. Apalagi sekarang, saya ngga pernah melihatnya lagi.
Nah, kembali ke buah Jamblang. Sejak saya pindah ke pinggiran kota, saya beruntung bukan cuma bisa melihat buahnya lagi, tapi juga pohonnya! Hmmmmm senengnya bisa bernostalgia. Ya, pohonnya nggak jauh dari rumah saya. Ada dua pohon; satu di halaman  rumah tetangga saya yang pengusaha mebel, terus yang satu lagi di halaman SD Negeri, juga ngga jauh dari rumah saya. Dua-duanya besar dan tinggi.
Kalau pas pohon Jamblang yang punya tetangga saya berbuah, saya nggak segan-segan minta pada Si Pemilik untuk bisa menikmati barang sepuluh atau lima belas buah. Sekadar mengenang masa kecil. Hehehe…
Dari sana selanjutnya Jamblang saya cuci bersih dan saya masukkan ke wadah untuk kemudian ditaruh di lemari es. Tapi eit…, seperti juga Si Abang penjual Jamblang waktu saya kecil dulu, pastinya saya juga ngga lupa naburin sedikit gula pasir di atasnya.
Tapi satu waktu pernah pas saya naburin gula di atas buah Jamblang, tiba-tiba saja saya kok menganalogikan sikap itu seperti di kehidupan ini ya. Iya, kalau kehidupan ini lagi asem dan sepet, bukankah saya juga bisa mencoba naburin sesuatu ke dalamnya? Biar hidup jadi terasa sedikit manis gitu, lho. Ah, saya lebay ya? Hahahaha….
I’ts oke, yang pasti siang itu saya larut dalam nostalgia menikmati asem, sepet dan manisnya kehidupan, eh asem sepet dan manisnya Si Jamblang, Purple Fruit yang dingin mengasikkan.

***

Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta

Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...