Anisa
baru saja pulang sekolah. Gadis mungil kelas enam SD itu mendapati rumahnya
dalam keadaan kosong. Ya, sudah tiga hari ayah dan ibunya tidak di rumah. Ayah sedang
menjaga ibu yang dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Bandung. Sementara Kakek Darma yang
biasanya sudah pulang dari kebun, siang itu juga tak ada di rumah.
Rencananya
nanti sore ayah dan ibunya Anisa pulang. Karena itu Anisa ingin sekali memberi kejutan
untuk menyambut kedatangan ibunya. Apalagi hari ini bertepatan juga dengan Hari
Ibu. Kira-kira apa ya, yang harus dia buat?
Kalau tadi
di sekolah Bu Guru Ita memberi tugas membuat karangan dengan tema ibu. Tapi…,
masa ibunya juga cuma dikasih karangan saja, pikir Anisa. Sambil memikirkan ide untuk menyambut kedatangan
ibunya, Anisa mencoba mencari Kakek Darma lagi ke sekeliling rumah. Dia masih
penasaran, siapa tahu kakeknya sudah pulang. Semua ruangan di rumah pun dimasuki,
tapi ternyata kakek memang tak ada di rumah.
Tanpa
menunda waktu Anisa pun langsung bergegas ke kebun milik Kakek Darma. Kebun itu
terletak di atas bukit, jaraknya lebih kurang satu kilometer dari rumahnya.
Dia berharap di sana bisa menemui kakek dan juga dapat ide untuk menyambut kedatangan
ibu.
Langkah
kecil Anisa begitu gesit, melesat di jalan kampung serta bukit terjal yang
masih berupa tanah dan bebatuan. Sesampainya di kebun Kakek Darma, tampak hamparan
aneka pohon umbi-umbian yang luas. Selain
Kakek Darma yang terlihat jauh di ujung sana, bersamaan itu Anisa juga mendapat
ide untuk menyambut kedatangan ibu yang sangat dicintainya. Ya, dia akan memasak
ubi merah untuk ibu!
“Kakeeee….”
teriak Anisa memecah keheningan.
Kakek
Darma menoleh ke arah sumber suara. Dengan setengah berlari beliau segera menghampiri dan memeluk
cucunya.
“Cucuku…,
maaf ya, Kakek belum sempat pulang,” kata Kakek Darma.
“Tidak
apa-apa, Kek. Aku sudah berani sendirian di rumah,” sahut Anisa.
”Ibumu
sudah pulang?” tanya Kakek Darma.
“Belum,
Kek.”
“Kok kamu
nyusul Kakek ke sini?”
“Aku kan
sudah lama tidak ke kebun ini,” ungkap Anisa.
Kakek
Darma manggut-manggut.
“O iya
Kek, aku boleh minta ubinya untuk aku masak?” lanjut Anisa lagi.
“Tentu
saja boleh, sayang.”
Sambil
dibantu Sang Kakek, tangan mungil Anisa kemudian mencabut dan mengumpulkan
beberapa ubi merah untuk dibawa pulang.
Sesampai
di rumah ubi-ubi itu pun lalu dibersihkan dan dimasak Anisa, seperti yang
pernah diajarkan ibunya. Sementara tak jauh dari situ, Kakek Darma terlihat
asik merebahkan badan di atas balebale
bambu sambil mengawasi cucunya.
Tak
terasa senja pun tiba. Anisa yang baru selesai mandi lalu memastikan ubi merah
yang dimasaknya sudah matang. Setelah yakin ubi merahnya matang, dengan sigap
dia pun menempatkan ubi itu ke dalam wadah dan menghidangkannya di meja makan.
Tak lama
kemudian, ayah dan ibu Anisa pun datang. Anisa tak dapat menyembunyikan rasa
senangnya, dia langsung lari menyambut dan memeluk ibu yang saat itu dipapah
ayah.
“Ibuuu…, sekarang
aku sudah bisa masak ubi merah kesukaan ibu,” kata Anisa sambil menunjuk ke
meja makan.
Ayah, ibu
dan Kakek Darma pun tersenyum. Mereka tampak haru dan bangga melihat apa yang dilakukan
Anisa.
*****