Ngga
kerasa tahu-tahu umur Mentes sudah dua setengah tahun. Perasaan baru kemarin anak
perempuan saya itu tumbuh gigi di umur enam bulan. Lalu bisa jalan di umur
sebelas bulan dan bisa ngomong pas satu tahun. Eeeehh…, tahu-tahu sekarang sudah
pinter nyanyi. Luar biasa menakjubkan.
Sejak
ada Mentes hidup saya jadi penuh warna dan lebih berarti. Biar pun pas resmi
jadi Ayah waktu itu saya lagi kena “badai” Pehaka,
tapi semangat buat cari nafkah terus berkobar. Dari yang tadinya karyawan
mendadak jadi wirausaha, walaupun kecil-kecilan.
Beruntung
di tengah ekonomi yang morat-marit karena Krismon,
Mentes dapat ASI eksklusif yang lancar gulincar dia terima selama dua tahun
dari Ibunya. Alhasil selain manfaatnya luar biasa hebat, anggaran buat susu formula
pun jadi selamat. Tuhan memang baik banget loh sama saya.
Saya
dan Ann ngga henti-hentinya bersyukur punya anak perempuan yang sehat. Lebih
dari itu, Mentes juga anak yang sangat menyenangkan. Siapa saja yang mengenal Mentes,
pasti senang bersahabat dengannya. Buat anak-anak sebaya, Mentes adalah teman yang menyenangkan, periang
dan supel. Sedangkan buat orang dewasa, dia anak yang gampang dan senang diajak
ngobrol, lucu dan menggemaskan. Ngga heran kalau banyak yang suka memintanya menyanyi.
Pernah
satu waktu sepulang dari rumah teman di Bintaro, Tangerang Selatan, sepanjang
perjalanan pulang ke rumah kami di Pondok Bambu, Mentes ditanggap menyanyi oleh
teman saya, Han. Kalau dihitung-hitung, ada barangkali dua puluh lagu yang dinyanyikannya.
Bernyanyi,
bercerita sambil bercanda ria memang kegiatan yang nyaris nggak pernah absen
kami lakukan. Biasanya acara digelar menjelang tidur malam. Saya atau Ann selalu
berperan sebagai Host yang memperkenalkan
dan mempersilakan Mentes sebagai penyanyi cilik untuk tampil di “panggung mimpi”.
Kalau
dirasa sudah mulai jenuh, acara nyanyi pun berganti jadi dongeng sebelum tidur yang
dibawakan bergantian oleh saya atau Ann. Kalau Ann yang bercerita tentang
harimau, misalnya, maka saya biasanya inisiatif berperan sebagai Si Kancil atau hewan pendukung lain yang ada
di cerita itu. Dan cerita akan terus
berlangsung sampai Mentes benar-benar tidur.
Suatu
malam pernah Ann mendongeng beberapa cerita, tapi Mentes belum tidur juga. Sampai
akhirnya gantian saya yang bercerita. Malam semakin larut. Saya lihat Ann sudah
tertidur, sementara saya pun mulai ngantuk, tapi cerita harus terus berlanjut karena
Mentes belum tidur.
Beberapa
kali di tengah cerita saya tertidur karena memang nggak sanggup menahan kantuk, beberapa kali juga
Mentes menggoyang-goyangkan badan saya, supaya terus melanjutkan cerita. Hingga
akhirnya entah jam berapa Mentes tertidur, begitu juga saya, ikut terlelap tanpa
menuntaskan cerita.
Tapi
belum lama rasanya mata ini terpejam dan mimpi pun belum dimulai,
sekitar jam tiga dini hari Mentes terbangun dari tidurnya. Seperti biasa
dia minta dibuatkan susu. Karena saya dan Ann malam itu sama-sama ngantuk
berat, kami agak ogah-ogahan beranjak dari tempat tidur. Saya berharap Ann yang
bangun. Begitu juga Ann berharap, saya yang bangun membuatkan susu untuk Mentes.
Tapi karena sama-sama ngga ada yang bangun,
akhirnya masih dalam posisi tidur saya iseng
mengajak Ann untuk Sut. Ya, Sut tiga kali. Yang kalah bikin susu untuk Mentes.
Hasilnya? Di Sut ketiga jempol saya berhasil mengalahkan telunjuk Ann. Ya, saya
menang. Yes!
Tapi
nasib berkata lain, baru saja saya mau merem
lagi tahu tahu Mentes bangun. Anak
itu langsung duduk bersila dan bersuara lantang, “Ayah ajah yang bikin susu!”
“Siap,
Tuan Putri, kuuuu.…” sahut saya dengan nada rendah.
Malam
itu kemenangan Sut saya sia-sia. Dengan ikhlas hati, biar pun ngantuk berat, saya
langsung bangkit dari tempat tidur menuju dapur….
***