Rabu, 03 November 2010

Pendidikan Nomer Satu

Anak saya dua, perempuan dan laki laki. Yang perempuan 12 tahun, kelas 1 di SMP Negeri Rintisan Sekolah Berstandar Internasional. Sedangkan adiknya 8 tahun, baru kelas 2 di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT).

Sebagai orang tua saya bangga dengan prestasi kedua anak saya. Selama di SD yang perempuan selalu ranking satu. Selain itu, dia juga aktif di berbagai organisasi di sekolahnya. Sekarang di SMP pun begitu. Walaupun semakin aktif di organisasi, prestasi belajarnya tetap baik dan dibuktikan dengan posisinya sebagai peringkat ketiga di kelasnya.

Kebanggaan saya semakin menjadi, sewaktu anak lelaki saya pun menunjukkan prestasinya. Urusan prestasi ternyata ”Jagoan” saya ini juga nggak mau kalah sama kakaknya. Selain ranking satu di kelasnya, dia masih menunjukkan prestasi lain diantaranya juara satu sains dan matematika di sekolahnya serta prestasi di bidang olahraga.

Syukur Alhamdulillah, Tuhan begitu sayang kepada keluarga saya. Bagi saya inilah karunia yang sangat berharga. Tak dapat dinilai dengan apapun, bahkan sulit untuk saya lukiskan dengan kata kata.

Kemudahan membimbing anak anak khususnya dalam belajar, sudah saya rasakan sejak awal anak saya bersekolah. Di saat orang tua lain begitu sulitnya membangun motivasi agar anaknya mau belajar, saya dan istri justru sebaliknya. Dalam keluarga kami, tak ada istilah menyuruh atau memerintah anak supaya belajar. Motivasi dan kesadaran belajar sudah terbangun dalam diri mereka. Mungkin karena ibunya yang guru itu masih terus belajar, mereka pun jadi meniru aktivitas belajar Sang Ibu.

Saya dan istri saya memang lahir dari keluarga pendidik. Ayah saya dan ayah mertua saya adalah seorang guru di era Oemar Bakrie. Jadi nggak perlulah dijelaskan bagaimana susahnya kehidupan kami. Tapi walaupun begitu, untuk urusan sekolah bagi kami tetap nomor satu.

Begitu juga sekarang saat saya sudah berkeluarga, pendidikan tetap jadi prioritas utama. Penghasilan saya sebagai pegawai kontrak dan penghasilan istri saya sebagai guru, boleh dibilang cukup (kalau nggak mau dibilang pas-pasan). Tapi kami sepakat untuk urusan pendidikan anak, sebisa mungkin memberi yang terbaik.

Karenanya sewaktu anak lelaki saya mau masuk Sekolah Dasar, pilihan pun jatuh pada SDIT. Ya, meskipun untuk itu kami harus rela merogoh kocek lebih dalam.

”Anaknya jadi dimasukin ke SDIT, Pak Bud?” tanya Pak Harto, tetangga sebelah rumah saya.

”Iya Pak,” jawab saya sambil senyum.

”Kan mahal, Pak Bud.”

”Nggak apa apa, pak. Biar anaknya pinter,” kata saya jujur.

Hehehehehe..., Pak Harto, Pak Harto. Kalau bisa milih, saya juga maunya nyekolahin anak ke sekolah yang bagus kualitasnya tapi murah biayanya. Tapi dimana? Kalau saja Pak Harto tau, betapa saya ”babak belur” untuk bisa nyekolahin anak di sekolah yang bagus kualitasnya itu. Cuma ini masalah prinsip. Toh saya rela kok kerja ekstra yang penting anak saya dapat pendidikan yang baik.

Sering saya nggak habis pikir sama beberapa tetangga saya. Mereka mampu beli mobil di atas Rp 100 juta, tapi buat sekolah anak maunya yang murah meriah. Malah kalau perlu yang gratis. Mungkin karena mobil bisa langsung kelihatan bagus atau jeleknya, sementara kalau kepintaran kan nggak bisa langsung kelihatan, kan? Dasar bangsa instan, pikir saya. Apa apa maunya yang langsung cepat terlihat.

Itu skala kecil masalah pendidikan di masyarakat kita. Bagaimana skala besarnya? Ah, baiknya nggak usah ditanya lagi deh. Mungkin itu sebabnya di bidang pendidikan (bidang bidang lain juga sih) kita selalu kalah dengan negara tetangga.

Kalau kata ayah saya yang orang kampung tapi berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, ”Kesalahan awal dan terbesar dari bangsa ini adalah ketika kita secara sadar tidak membangun manusianya.”

ds 110310

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta

Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...