Tahun ini genap 6 tahun Ayah saya wafat. Diabetes yang menyebabkan komplikasi berbagai macam penyakit di tubuhnya, akhirnya merenggut nyawanya di suatu malam, 2 hari menjelang Ramadhan. Dialah potret sederhana seorang guru di era Umar Bakrie.
Bayangan sosok Ayah tiba-tiba saja muncul sewaktu saya ketemu Pak Tito, bos besar salah satu klien di kantor saya. Ya, wajahnya mirip benar dengan ayah saya. Ayah yang selalu mengkritik tulisan saya, sekaligus memberi semangat yang luar biasa.
”Aku tak pernah melarangmu bermimpi,” begitu katanya suatu sore, sewaktu saya masih kuliah dulu. ”Tapi cobalah wujudkan mimpimu itu dengan apa yang kamu miliki.”
Begitulah Ayah saya, dia yang membiasakan saya membaca dan juga menulis. Dia yang membius saya dengan buku-buku karya sastrawan besar sejak saya masih SMP. Karena dia juga akhirnya saya mau memulai dengan apa yang saya miliki. Menulis dengan mesin ketik tua pemberiannya, meski dia tahu bakat menulis saya cuma 1%. Tidak lebih.
Kalau pun kemudian saya bisa keliling Sumatera tanpa keluar uang sepeser pun, liburan gratis ke Bali, punya handphone keluaran terbaru dan meraih beberapa penghargaan, semua tidak lain karena menulis. Bahkan karena dia juga saya bisa seperti sekarang ini. Menghidupi istri dan dua anak saya dari hasil menulis.
”Kalau kau punya mesin ketik, ya nyalakan semangatmu dengan mesin ketikmu,” katanya nggak bosan-bosan memberi semangat.
Kalimat itulah yang melulu meluncur dari mulutnya, setiap kali melihat jari saya menari di atas tuts mesin ketik. Dari kalimat pembuka itu biasanya obrolan kami pun melebar ke arah diskusi panjang. Membahas berbagai macam hal hingga larut malam.
Kenangan lain yang nggak mungkin saya lupakan bersama Ayah adalah; satu rim kertas Doorslag ( kertas buram ) yang biasanya beliau berikan pada saya di setiap awal bulan. Ya, kertas Doorslag itu, kertas pendukung untuk tulisan-tulisan saya. Kertas yang mampu membangkitkan kenangan bersamanya.
Itulah Ayah saya, figur yang telah menginspirasi dan membawa saya ke kehidupan nyata dengan kalimat khasnya, "Mulailah dengan apa yang kamu miliki...."
120110
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta
Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...
-
Kampung Lestari sedang dilanda musim Yoyo. Hampir di setiap sudut kampung banyak orang bermain Yoyo. Di rumah, di sekolah dan di jalan-jala...
-
Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...
-
Mensana in Corpore Sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Kalimat populer dari bahasa Latin ini, pernah dipatahkan Dai konda...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar