Sabtu, 02 April 2016

Kamu Anak Hebat

Wiji sudah lulus Sekolah Dasar. Perjalanan panjang selama enam tahun telah berhasil dilaluinya.  Sebagai orangtua yang telah berusaha semaksimal mungkin mendukungnya, juga sangat merasakan keberhasilan itu. Maklum, dulu kami sempat khawatir ngga sanggup membiayai Wiji di sekolah yang bermutu bagus, dengan biaya yang menurut ukuran kami waktu itu lumayan mahal.
Tapi ternyata Tuhan sayang sama kami dan selalu memberi jalan buat umatnya yang mau berusaha. Terbukti selama enam tahun semua berjalan lancar. Mulai dari biaya masuk sekolah, biaya operasional setiap harinya sampai biaya setiap tahun ajaran barunya, alhamdulillah ada saja rejekinya. Semua luar biasa dimudahkan oleh-NYA.
Alhasil perjuangan selama enam tahun pun berbuah manis. Dari sekolah yang berslogan Berani, Mandiri dan Prestasi itu, Wiji berhasil menjadi anak yang punya karakter dan kepribadian kuat. Ketiga kata dalam slogannya, alhamdulillah sudah tertanam di dalam dirinya. Salah satunya adalah keberanian Wiji memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke pondok pesantren.  Keinginan itu bahkan sudah disampaikannya ke saya dan juga Ibunya sejak dia masih di kelas lima.
Sekarang saatnya datang, saat Wiji harus masuk ke pondok pesantren pilihannya. Sebagai Ayah saya ngga punya pilihan lain, selain mendukung apa yang telah menjadi keputusannya. Saat itu dua jempol saya acungkan di depan Wiji, sebagai simbol kekaguman, kebanggaan dan dukungan saya yang teramat sangat untuknya.
Ah, anak lelaki itu, kenapa cuma sebentar memberi kesempatan saya  mengurusnya? Ya kok, berani-beraninya baru lulus SD sudah keluar dari rumah. Dulu saya saja pas mau kuliah, baru keluar dari rumah. Mungkin jamannya memang sudah berubah. Entahlah. Tapi kalau memang untuk kebaikan, ya, tak apalah. Kenangan-kenangan manis saat mengantar Wiji ke sekolah dengan sepeda motor setiap hari di jam enam pagi pun terlintas kembali.
Wiji… Wiji…, itu, kan, artinya dia sadar betul kalau dia akan meninggalkan rumah. Meninggalkan kami orangtuanya, meninggalkan semua fasilitas yang ada. Belajar hidup mandiri di luar sana, jauh dari orangtua. Luar biasa! Masih kecil saja kamu sudah berani keluar dari zona nyaman, Ji. Harus saya akui, kamu memang hebat! Lebih hebat dari Ayah. Ayah bangga banget loh sama kamu.
Suasana haru pun ngga bisa dihindari, saat kami pamit hendak meninggalkan pondokan.
“Ibu jangan nangis,” kata Wiji. “Di sini Wiji, kan, mau sekolah, Bu.”
“Ibu ngga nangis, kok, Ji. Ibu cuma terharu,” kata saya mencoba mengalihkan suasana. “Iya, kan, Bu?”
Ann buru-buru memeluk Wiji sambil mengusap air matanya, lalu diciumnya anak lelakinya itu. Kemudian giliran Mbah Uti dan Mentes pamit, mereka juga memeluk dan mencium Wiji.
Pas giliran saya, pandangan mata ini pun sengaja saya fokuskan pada calon pemimpin masa depan itu. Kemudian saya ulurkan tangan dan Wiji menyambut lalu mencium. Baru kemudian saya pun memeluk dan menciumnya.  Di depan Wiji, air mata saya simpan.
“Selamat berjuang, Nak.”
“Terima kasih, Ayah. Doain Wiji, ya, Yah.”
Wiji saya peluk lagi. Bangga dan haru lekat jadi satu. Seperti Ann, saya juga sebenarnya ingin menangis, menumpahkan semua perasaan ini. Tapi itu nggak saya lakukan. Saya nggak kepingin Wiji malah sedih.
Sore itu senyum Wiji melepas kepulangan kami. Hanya lambaian tangan dan senyum yang saya tunjukkan padanya.
Tapi selepas pintu gerbang, air mata sepertinya tak tertahankan lagi. Kami semua mbrebes mili.

***


mbrebes mili: berlinang air mata. 










2 komentar:

  1. Aku yg baca jg mbrebes mili mas bud.. keren tulisannya

    BalasHapus
  2. Aku yg baca jg mbrebes mili mas bud.. keren tulisannya

    BalasHapus

Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta

Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...