Wiji
sudah lulus Sekolah Dasar. Perjalanan panjang selama enam tahun telah berhasil dilaluinya.
Sebagai orangtua yang telah berusaha semaksimal
mungkin mendukungnya, juga sangat merasakan keberhasilan itu. Maklum, dulu kami
sempat khawatir ngga sanggup membiayai Wiji di sekolah yang bermutu bagus,
dengan biaya yang menurut ukuran kami waktu itu lumayan mahal.
Tapi
ternyata Tuhan sayang sama kami dan selalu memberi jalan buat umatnya yang mau berusaha.
Terbukti selama enam tahun semua berjalan lancar. Mulai dari biaya masuk
sekolah, biaya operasional setiap harinya sampai biaya setiap tahun ajaran barunya,
alhamdulillah ada saja rejekinya. Semua luar biasa dimudahkan oleh-NYA.
Alhasil
perjuangan selama enam tahun pun berbuah manis. Dari sekolah yang berslogan Berani,
Mandiri dan Prestasi itu, Wiji berhasil menjadi anak yang punya karakter dan
kepribadian kuat. Ketiga kata dalam slogannya, alhamdulillah sudah tertanam di
dalam dirinya. Salah satunya adalah keberanian Wiji memutuskan untuk melanjutkan
sekolah ke pondok pesantren. Keinginan
itu bahkan sudah disampaikannya ke saya dan juga Ibunya sejak dia masih di
kelas lima.
Sekarang
saatnya datang, saat Wiji harus masuk ke pondok pesantren pilihannya. Sebagai Ayah
saya ngga punya pilihan lain, selain mendukung apa yang telah menjadi keputusannya.
Saat itu dua jempol saya acungkan di depan Wiji, sebagai simbol kekaguman,
kebanggaan dan dukungan saya yang teramat sangat untuknya.
Ah,
anak lelaki itu, kenapa cuma sebentar memberi kesempatan saya mengurusnya? Ya kok, berani-beraninya baru
lulus SD sudah keluar dari rumah. Dulu saya saja pas mau kuliah, baru keluar
dari rumah. Mungkin jamannya memang sudah berubah. Entahlah. Tapi kalau memang untuk
kebaikan, ya, tak apalah. Kenangan-kenangan manis saat mengantar Wiji ke
sekolah dengan sepeda motor setiap hari di jam enam pagi pun terlintas kembali.
Wiji…
Wiji…, itu, kan, artinya dia sadar betul kalau dia akan meninggalkan rumah. Meninggalkan
kami orangtuanya, meninggalkan semua fasilitas yang ada. Belajar hidup mandiri
di luar sana, jauh dari orangtua. Luar biasa! Masih kecil saja kamu sudah
berani keluar dari zona nyaman, Ji. Harus saya akui, kamu memang hebat! Lebih
hebat dari Ayah. Ayah bangga banget loh sama kamu.
Suasana
haru pun ngga bisa dihindari, saat kami pamit hendak meninggalkan pondokan.
“Ibu
jangan nangis,” kata Wiji. “Di sini Wiji, kan, mau sekolah, Bu.”
“Ibu
ngga nangis, kok, Ji. Ibu cuma terharu,” kata saya mencoba mengalihkan suasana.
“Iya, kan, Bu?”
Ann
buru-buru memeluk Wiji sambil mengusap air matanya, lalu diciumnya anak
lelakinya itu. Kemudian giliran Mbah Uti dan Mentes pamit, mereka juga memeluk dan
mencium Wiji.
Pas
giliran saya, pandangan mata ini pun sengaja saya fokuskan pada calon pemimpin
masa depan itu. Kemudian saya ulurkan tangan dan Wiji menyambut lalu mencium.
Baru kemudian saya pun memeluk dan menciumnya.
Di depan Wiji, air mata saya simpan.
“Selamat
berjuang, Nak.”
“Terima
kasih, Ayah. Doain Wiji, ya, Yah.”
Wiji
saya peluk lagi. Bangga dan haru lekat jadi satu. Seperti Ann, saya juga
sebenarnya ingin menangis, menumpahkan semua perasaan ini. Tapi itu nggak saya
lakukan. Saya nggak kepingin Wiji malah sedih.
Sore
itu senyum Wiji melepas kepulangan kami. Hanya lambaian tangan dan senyum yang saya
tunjukkan padanya.
Tapi
selepas pintu gerbang, air mata sepertinya tak tertahankan lagi. Kami semua mbrebes mili.
***
mbrebes mili: berlinang air mata.
Aku yg baca jg mbrebes mili mas bud.. keren tulisannya
BalasHapusAku yg baca jg mbrebes mili mas bud.. keren tulisannya
BalasHapus