Rabu, 30 Maret 2016

Sut

Ngga kerasa tahu-tahu umur Mentes sudah dua setengah tahun. Perasaan baru kemarin anak perempuan saya itu tumbuh gigi di umur enam bulan. Lalu bisa jalan di umur sebelas bulan dan bisa ngomong pas satu tahun. Eeeehh…, tahu-tahu sekarang sudah pinter nyanyi.  Luar biasa menakjubkan.
Sejak ada Mentes hidup saya jadi penuh warna dan lebih berarti. Biar pun pas resmi jadi Ayah waktu itu saya lagi kena “badai” Pehaka, tapi semangat buat cari nafkah terus berkobar. Dari yang tadinya karyawan mendadak jadi wirausaha, walaupun kecil-kecilan.
Beruntung di tengah ekonomi yang morat-marit karena Krismon, Mentes dapat ASI eksklusif yang lancar gulincar dia terima selama dua tahun dari Ibunya. Alhasil selain manfaatnya luar biasa hebat, anggaran buat susu formula pun jadi selamat. Tuhan memang baik banget loh sama saya.
Saya dan Ann ngga henti-hentinya bersyukur punya anak perempuan yang sehat. Lebih dari itu, Mentes juga anak yang sangat menyenangkan. Siapa saja yang mengenal Mentes, pasti senang bersahabat dengannya. Buat anak-anak sebaya,  Mentes adalah teman yang menyenangkan, periang dan supel. Sedangkan buat orang dewasa, dia anak yang gampang dan senang diajak ngobrol, lucu dan menggemaskan. Ngga heran kalau banyak yang suka memintanya menyanyi.
Pernah satu waktu sepulang dari rumah teman di Bintaro, Tangerang Selatan, sepanjang perjalanan pulang ke rumah kami di Pondok Bambu, Mentes ditanggap menyanyi oleh teman saya, Han. Kalau dihitung-hitung, ada barangkali dua puluh lagu yang dinyanyikannya.   
Bernyanyi, bercerita sambil bercanda ria memang kegiatan yang nyaris nggak pernah absen kami lakukan. Biasanya acara digelar menjelang tidur malam. Saya atau Ann selalu berperan sebagai Host yang memperkenalkan dan mempersilakan Mentes sebagai penyanyi cilik untuk tampil di “panggung mimpi”.
Kalau dirasa sudah mulai jenuh, acara nyanyi pun berganti jadi dongeng sebelum tidur yang dibawakan bergantian oleh saya atau Ann. Kalau Ann yang bercerita tentang harimau, misalnya, maka saya biasanya inisiatif berperan sebagai  Si Kancil atau hewan pendukung lain yang ada di cerita itu. Dan cerita akan terus  berlangsung sampai Mentes benar-benar tidur.
Suatu malam pernah Ann mendongeng beberapa cerita, tapi Mentes belum tidur juga. Sampai akhirnya gantian saya yang bercerita. Malam semakin larut. Saya lihat Ann sudah tertidur, sementara saya pun mulai ngantuk, tapi cerita harus terus berlanjut karena Mentes belum tidur.
Beberapa kali di tengah cerita saya tertidur karena memang nggak  sanggup menahan kantuk, beberapa kali juga Mentes menggoyang-goyangkan badan saya, supaya terus melanjutkan cerita. Hingga akhirnya entah jam berapa Mentes tertidur, begitu juga saya, ikut terlelap tanpa menuntaskan cerita.
Tapi belum lama rasanya mata ini terpejam dan mimpi pun  belum dimulai,  sekitar jam tiga dini hari Mentes terbangun dari tidurnya. Seperti biasa dia minta dibuatkan susu. Karena saya dan Ann malam itu sama-sama ngantuk berat, kami agak ogah-ogahan beranjak dari tempat tidur. Saya berharap Ann yang bangun. Begitu juga Ann berharap, saya yang bangun membuatkan susu untuk Mentes.
            Tapi karena sama-sama ngga ada yang bangun,  akhirnya masih dalam posisi tidur saya iseng mengajak Ann untuk Sut. Ya, Sut tiga kali. Yang kalah bikin susu untuk Mentes. Hasilnya? Di Sut ketiga jempol saya berhasil mengalahkan telunjuk Ann. Ya, saya menang. Yes!
Tapi nasib berkata lain, baru saja saya mau merem lagi tahu tahu Mentes bangun. Anak itu langsung duduk bersila dan bersuara lantang, “Ayah ajah yang bikin susu!”
“Siap, Tuan Putri, kuuuu.…” sahut saya dengan nada rendah.
Malam itu kemenangan Sut saya sia-sia. Dengan ikhlas hati, biar pun ngantuk berat, saya langsung bangkit dari tempat tidur menuju dapur….


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta

Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...