Namanya
Maryamah. Umur pastinya saya tidak tahu. Tapi perkiraan saya sekitar 40
tahunan. Penampilannya memang terlihat lebih tua dari umurnya. Dia pembantu baru
di rumah saya. Belum ada setahun. Sejak awal kerja, istri saya memanggilnya
dengan sebutan Uwa, begitu juga kedua anak saya.
Perawakan
Uwa termasuk kecil untuk ukuran normal orang Indonesia. Sepintas orang akan menyangsikan
kemampuannya bekerja keras. Tapi ternyata, kalau cuma nyuci, nyetrika, nyapu
dan ngepel, itu terlalu standar buat Uwa. Uwa jujur, rajin, gesit, pemberani, punya
inisiatif tinggi dan yang membuat kami sekeluarga berdecak kagum, dia juga punya
kekuatan luaaaaarrrr biasa! Dan itu sudah kami buktikan.
Waktu
itu hari Minggu, persediaan beras dan air minum di rumah kami habis, sementara
istri saya lagi seru-serunya masak di dapur. Saya pun langsung menelpon agen
penjual beras dan air minum yang tak jauh dari rumah kami itu untuk minta segera
diantar. Tapi setelah beberapa lama tak datang-datang, tiba-tiba saja Uwa yang memanggul
beras dan galon air itu. Ck ck ck ck ck ck…. Uwa dahsyat!
Bukan
cuma itu. Pernah juga pas libur tiga hari. Waktu itu Istri saya minta tolong saya
mencari tukang untuk keperluan memotong ranting-ranting pohon mangga di depan
rumah kami yang sudah mengganggu kabel listrik. Tapi apa yang terjadi? Sore
harinya tahu-tahu Uwa sudah di atas pohon mangga kami yang besar itu sambil
memangkas ranting-rantingnya. Lagi-lagi kami sekeluarga terbengong-bengong
dibuatnya. Ya ampuuuuuunnnnn…, Uwa, Uwa.
Kalau
saya tegur, Uwa cuma bilang, ”Pohon kelapa di rumah saya lebih tinggi, Pak.”
Akhirnya
saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Rupanya panjat memanjat sudah jadi santapan
sehari-hari Uwa di kampungnya. Hmmmm...,
pantes saja.
Banyak
inisiatif dan kekuatan yang Uwa tunjukkan selama bekerja di rumah kami. Di satu
sisi kami senang dan bangga punya Uwa, tapi di sisi lain terus terang kami
sangat khawatir dengan sepak terjangnya yang membahayakan itu. Banyak pekerjaan berat yang umumnya dilakukan
laki-laki, Uwa lakukan juga. Kalau inisiatif seperti misalnya membuatkan donat
untuk menyenangkan kedua anak saya, ya pastinya saya senang-senang saja. Tapi
kalau inisiatifnya manjat atap rumah mengganti genteng yang bocor, saya
senang sekaligus ketar-ketir.
Itulah
sebagian kehebatan sekaligus kehebohan yang Uwa lakukan di rumah saya. Terus
terang seumur-umur saya baru punya
pembantu seperti ini. Uwa memang tipe orang yang tak bisa diam. Sepanjang hari
selalu ada saja yang dia kerjakan. Kalau kata anak saya yang bungsu, Uwa itu nggak
punya puser alias nggak ada capeknya. Sejak ada Uwa, tak heran kalau rumah kami selalu tampak resik dan apik. Makanya
tak sedikit tetangga yang iri pada kami karena kami punya Uwa yang serba bisa ini.
Belum
lagi kalau malam, selepas sholat Isya, saking tak mau diamnya, Uwa juga suka menawarkan diri untuk memijat istri saya. Maksudnya
mungkin ingin menyenangkan istri saya yang
capek setelah seharian bekerja. Tapi bukankah Uwa juga capek, kan setelah
seharian bekerja? Istri saya sering menolaknya, karena dari dulu saya dan istri
memang punya aturan; pembantu tak boleh
bekerja lagi setelah Sholat Magrib. Dia juga punya hak untuk istirahat.
Ya,
siapa pun pembantunya, dari dulu kami memang selalu memperlakukan pembantu sebagai
anggota keluarga. Bukan jongos yang bisa kami suruh semena-mena. Bahkan kami
juga tak pernah membeda-bedakan untuk urusan makan. Dia makan sama seperti yang
kami makan.
Lebih
dari itu Istri saya juga memperhatikan beberapa keperluan pribadi pembantu kami,
seperti peralatan mandi dan juga pembalut kewanitaannya. Jadi buat pembantu
yang pandai berhemat, bisa menyimpan gajinya utuh tuh. Dan Uwa termasuk orang yang
seperti itu. Sebagai Ibu dua anak, Uwa selalu mengirimkan semua gajinya untuk
orang-orang yang dicintainya itu ke kampungnya. Kalau pun ada rejeki lain
semisal bonus, baru Uwa menabungnya atau dibelikan emas sebagai simpanan untuk keperluan
masa depan anaknya.
”Kalau saya sih nggak butuh apa-apa, Bu. Bisa
ngirim uang tiap bulan ke kampung saja saya sudah seneng banget.” Itu yang selalu
dikatakan Uwa pada istri saya.
Istri saya juga pernah cerita, kalau Uwa pernah
tiga kali menikah. Tapi ketiga
pernikahannya itu hancur semua. Suami pertamanya pergi entah kemana, sedangkan
suami kedua dan ketiganya nikah lagi. Ya Allah….
Uwa
benar-benar perempuan kuat. Uwa memang hebat!
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar