Rabu, 17 September 2014

Uwa Memang Hebat


Namanya Maryamah. Umur pastinya saya tidak tahu. Tapi perkiraan saya sekitar 40 tahunan. Penampilannya memang terlihat lebih tua dari umurnya. Dia pembantu baru di rumah saya. Belum ada setahun. Sejak awal kerja, istri saya memanggilnya dengan sebutan Uwa, begitu juga kedua anak saya.
Perawakan Uwa termasuk kecil untuk ukuran normal orang Indonesia. Sepintas orang akan menyangsikan kemampuannya bekerja keras. Tapi ternyata, kalau cuma nyuci, nyetrika, nyapu dan ngepel, itu terlalu standar buat Uwa. Uwa jujur, rajin, gesit, pemberani, punya inisiatif tinggi dan yang membuat kami sekeluarga berdecak kagum, dia juga punya kekuatan luaaaaarrrr biasa! Dan itu sudah kami buktikan.
Waktu itu hari Minggu, persediaan beras dan air minum di rumah kami habis, sementara istri saya lagi seru-serunya masak di dapur. Saya pun langsung menelpon agen penjual beras dan air minum yang tak jauh dari rumah kami itu untuk minta segera diantar. Tapi setelah beberapa lama tak datang-datang, tiba-tiba saja Uwa yang memanggul beras dan galon air itu. Ck ck ck ck ck ck…. Uwa dahsyat!
Bukan cuma itu. Pernah juga pas libur tiga hari. Waktu itu Istri saya minta tolong saya mencari tukang untuk keperluan memotong ranting-ranting pohon mangga di depan rumah kami yang sudah mengganggu kabel listrik. Tapi apa yang terjadi? Sore harinya tahu-tahu Uwa sudah di atas pohon mangga kami yang besar itu sambil memangkas ranting-rantingnya. Lagi-lagi kami sekeluarga terbengong-bengong dibuatnya. Ya ampuuuuuunnnnn…, Uwa, Uwa.
Kalau saya tegur, Uwa cuma bilang, ”Pohon kelapa di rumah saya lebih tinggi, Pak.”
Akhirnya saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Rupanya panjat memanjat sudah jadi santapan sehari-hari  Uwa di kampungnya. Hmmmm..., pantes saja.
Banyak inisiatif dan kekuatan yang Uwa tunjukkan selama bekerja di rumah kami. Di satu sisi kami senang dan bangga punya Uwa, tapi di sisi lain terus terang kami sangat khawatir dengan sepak terjangnya yang membahayakan itu.  Banyak pekerjaan berat yang umumnya dilakukan laki-laki, Uwa lakukan juga. Kalau inisiatif seperti misalnya membuatkan donat untuk menyenangkan kedua anak saya, ya pastinya saya senang-senang saja. Tapi kalau inisiatifnya manjat atap rumah mengganti genteng yang bocor, saya senang sekaligus ketar-ketir.
Itulah sebagian kehebatan sekaligus kehebohan yang Uwa lakukan di rumah saya. Terus terang seumur-umur saya  baru punya pembantu seperti ini. Uwa memang tipe orang yang tak bisa diam. Sepanjang hari selalu ada saja yang dia kerjakan. Kalau kata anak saya yang bungsu, Uwa itu nggak punya puser alias nggak ada capeknya. Sejak ada Uwa, tak heran kalau  rumah kami selalu tampak resik dan apik. Makanya tak sedikit tetangga yang iri pada kami karena kami punya Uwa yang serba bisa ini.
Belum lagi kalau malam, selepas sholat Isya, saking tak mau diamnya, Uwa  juga suka  menawarkan diri untuk memijat istri saya. Maksudnya mungkin ingin menyenangkan istri saya yang  capek setelah seharian bekerja. Tapi bukankah Uwa juga capek, kan setelah seharian bekerja? Istri saya sering menolaknya, karena dari dulu saya dan istri memang  punya aturan; pembantu tak boleh bekerja lagi setelah Sholat Magrib. Dia juga punya hak untuk istirahat.
Ya, siapa pun pembantunya, dari dulu kami memang selalu memperlakukan pembantu sebagai anggota keluarga. Bukan jongos yang bisa kami suruh semena-mena. Bahkan kami juga tak pernah membeda-bedakan untuk urusan makan. Dia makan sama seperti yang kami makan.
Lebih dari itu Istri saya juga memperhatikan beberapa keperluan pribadi pembantu kami, seperti peralatan mandi dan juga pembalut kewanitaannya. Jadi buat pembantu yang pandai berhemat, bisa menyimpan gajinya utuh tuh. Dan Uwa termasuk orang yang seperti itu. Sebagai Ibu dua anak, Uwa selalu mengirimkan semua gajinya untuk orang-orang yang dicintainya itu ke kampungnya. Kalau pun ada rejeki lain semisal bonus, baru Uwa menabungnya atau dibelikan emas sebagai simpanan untuk keperluan masa depan anaknya.
 ”Kalau saya sih nggak butuh apa-apa, Bu. Bisa ngirim uang tiap bulan ke kampung saja saya sudah seneng banget.” Itu yang selalu dikatakan Uwa pada istri saya.
 Istri saya juga pernah cerita, kalau Uwa pernah  tiga kali menikah. Tapi ketiga pernikahannya itu hancur semua. Suami pertamanya pergi entah kemana, sedangkan suami kedua dan ketiganya nikah lagi. Ya Allah….
Uwa benar-benar perempuan kuat. Uwa memang hebat!


                                                                 *****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta

Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...