Rabu, 17 September 2014

Semalam di Baduy Dalam



“Sigana mah rek hujan yeuh, kumaha ari isukan wae ka Cibeo, na?” (Sepertinya mau hujan nih, bagaimana kalau besok saja ke Cibeo-nya?) Begitu saran Jaya, sahabat saya yang tinggal di Kampung Kadujangkung, Baduy Luar, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sewaktu saya dan Erwin teman sekantor saya minta diantar ke Cibeo, Baduy Dalam.
Sore itu saat kami tiba di Kadujangkung jam menunjukkan pukul empat lewat dua puluh lima menit. Saya pikir tak mungkin juga meneruskan perjalanan ke Cibeo, selain sudah terlalu sore, kondisi fisik pun lelah. Akhirnya kami memutuskan beristirahat dan bermalam di kampung ini. Beberapa menit kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Sore itu saya melepas lelah di teras rumah panggung orang Baduy Luar, ditemani kopi panas dan singkong rebus yang disuguhkan tuan rumah.
Ternyata hujan turun tidak terlalu lama seperti perkiraan saya. Mumpung langit belum gelap, saya nikmati sepotong senja sambil keliling kampung. Suasana tenang dan damai menyelimuti perkampungan di Baduy yang berada di lereng-lereng bukit dengan ketinggian tanah berbeda-beda. Tumpukan-tumpukan batu kali terlihat di banyak tempat, di permukaan jalan tanah yang menghubungkan rumah satu dengan rumah lainnya.
Ketika saya melintas di antara rumah-rumah penduduk, sisa air hujan masih menetes  dari atap-atap rumah mereka yang terbuat dari Rumbia daun pohon Kiray, sejenis pohon Sagu.  Rumah-rumah di perkampungan Baduy Luar semua sama. Konstruksinya dibuat dari kayu dan bambu, dinding rumahnya dari  anyaman bambu dan lantainya dibuat dari Palupuh, bambu yang dibentuk menjadi lembaran.  Bahan bangunannya seratus persen bersumber dari bahan alami yang mudah didapat di lingkungan sekitar dan tentu saja ramah lingkungan.
Untuk membangun rumah mereka tidak diperkenankan mengubah kontur tanah dan menggunakan unsur logam. Adapun ikatan penyatu antara kayu dan bambu yang mereka gunakan yaitu dengan pasak dan  ikatan ijuk.  Oya, mereka juga dilarang  memasang pasak ke dalam tanah, jadi hanya menumpuk batu-batuan di dekat tiang-tiang utama sebagai pondasi dan rumah akan dibangun di atas bebatuan itu.
Langit semakin memerah dan  mulai beranjak gelap. Kini kami menyatu dalam pelukan malam yang romantis. Dengan penerangan lampu minyak kelapa, kami menikmati Sentir Light Dinner sederhana; nasi ikan asin dan sayur ala Baduy. Ya, aturan adat Baduy memang tidak membolehkan aliran listrik masuk ke wilayah mereka. Tapi diluar dugaan, malam itu di tengah keluarga Jaya kami mendapat bonus suguhan istimewa berupa orkestrasi tembang Sunda gaya Baduy. Jaya Si Tuan Rumah memainkan Biola, Ayah Mertuanya memainkan Kecapi, sedangkan Gambang dan Gong dimainkan oleh salah seorang tetangga mereka. Sungguh pertunjukan musik nan eksotik, dalam gulitanya malam di tengah kampung yang sederhana.
Malam berlalu dan tak terasa fajar pun telah menyingsing. Alunan musik semalam rupanya berhasil mengusir dingin dan membius kami hingga terbuai di alam mimpi.  Pagi ini sebelum memulai perjalanan menuju Cibeo, kami segera berkemas dan menikmati sarapan yang telah disiapkan oleh tuan rumah. Lagi-lagi satu penghormatan dari keluarga Baduy Luar yang membuat kami terharu.
Di luar kabut masih menggelayut di antara rerimbunan pohon bambu. Saat meninggalkan Kadujangkung kami awali langkah dengan penuh semangat. Selangkah demi selangkah kami menapakkan kaki pada tanah merah yang basah sisa  hujan kemarin. Namun belum jauh rasanya kaki ini melangkah, bukit terjal sudah menghadang. Saya coba mengatur nafas yang mulai tersengal. Sementara keringat sudah mulai membasahi sekujur tubuh. Saya lihat di tanjakan licin Erwin dengan sangat hati-hati menapakkan kakinya agar tak terpeleset.
Dibanding dengan masyarakat Baduy, jelas kekuatan gerak langkah kaki kami tak seujung kuku mereka. Suku Baduy yang sejak dulu tidak beralas kaki dan tak mengenal alat transportasi, ini menjadikan berjalan kaki adalah satu-satunya cara mereka menuju ke satu tempat. Karena itu tak heran bila hidup mereka sehat. Di Baduy jangankan mobil, sepeda pun tak ada. Karenanya jangan berharap bisa melihat jalan aspal meskipun hanya sepenggal. Di sana semua serba alami, termasuk jembatan penyeberangan pun terbuat dari bahan alami bambu dan ijuk sebagai pengikatnya.
Tak terasa sudah tiga  jam kami berjalan. Hampir tiga per-empat perjalanan sudah kami tempuh. Beberapa kampung dan perbukitan hijau yang lumayan terjal di Baduy Luar pun telah kami lalui. Di bawah pepohonan yang rindang saya dan Erwin beristirahat sejenak. Sambil melepas lelah kami mengamati beberapa Leuit, lumbung padi kolektif khas Baduy yang wajib dimiliki oleh setiap keluarga di sana. Bagi suku Baduy, Leuit bukan sekadar tempat menyimpan hasil panen padi bersama, tapi juga memiliki filosofi berhemat, bersahaja dan tidak rakus. Filosofi ini merupakan pencerminan dari sifat masyarakat Baduy yang tidak pernah berlebihan dalam segala hal.
Mengunjungi Baduy yang terletak lebih kurang 120 Kilometer dari Jakarta, bukan sekadar perjalanan biasa atau pun pelarian dari keruwetan di Ibukota. Bagi saya Baduy adalah wisata pembelajaran tentang bagaimana kita seharusnya memperlakukan alam dan lingkungan. Sedangkan menurut teman saya Erwin, Baduy bukan tempat wisata bernyaman-nyaman tapi wisata budaya, tempat merenungkan kembali tentang budaya.
Matahari semakin meninggi. Di sini di Bumi Baduy kami sangat menikmati alam dengan udara segarnya, sungai jernih dengan gemericik airnya serta kicau burung-burung liar. Dari kejauhan nampak puncak bukit Pagelaran yang rimbun dengan hutan lindungnya.
“Di dieu geus teu meunang moto deui, nya, (Di sini tidak boleh motret lagi, ya),” tegur Jaya mengingatkan saya yang lupa dan bermaksud memotret Erwin dengan latar belakang pemandangan menakjubkan. Saat itu juga saya langsung memasukkan kamera ke dalam ransel.
Menjelang bukit Pagelaran yang terjal,  beruntung kami masih menyimpan semangat ekstra.  Medan yang lumayan berat  pun akhirnya  berhasil kami lalui. Setelah  itu barulah kami bisa sedikit bernafas lega saat menuruni punggung bukit Pagelaran menuju Kampung Cibeo yang ada di dasar lembah, namun belum juga terlihat karena tertutup oleh rimbunnya pepohonan.
Di tengah perbukitan  pegunungan Kendeng yang terpencil dengan udara bersih, segar, kaya oksigen dan tak banyak terusik kebudayaan luar, warga Baduy Dalam hidup dengan tradisi sesuai adat serta kepercayaan yang mereka yakini. Warga Baduy Dalam tinggal di tiga kampung terpisah; Cibeo dan Cikertawana yang berdekatan serta di Cikeusik yang jauh di ujung selatan kawasan Baduy.  
Sampai saat ini warga Baduy Dalam tetap setia memegang teguh aturan adat leluhur diantaranya tidak menggunakan alas kaki, tidak menggunakan alat transportasi dan tidak menggunakan alat elektronik apapun. Sehari-harinya mereka hanya mengenakan pakaian hitam atau putih yang ditenun dan dijahit sendiri, serta dilengkapi dengan kain ikat kepala warna putih untuk laki-laki dan menjalankan semua hal yang berkaitan dengan alam.
Memasuki jembatan bambu khas Baduy barulah terlihat perkampungan Cibeo yang sepi dan terkesan penuh misteri. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Jaya pun menjelaskan kalau sebagian besar warga masih berada di ladang dan  huma. Tapi di kampung yang dihuni lebih kurang sembilan puluh Kepala Keluarga ini, kami tetap bisa menemui dua sampai tiga orang warga yang bertugas ronda, menjaga kampung dari kemungkinan bahaya khususnya bahaya kebakaran. Meskipun mereka berbahasa Sunda dengan dialek Banten, tapi mereka tidak canggung sedikit pun berbahasa Indonesia.
Secara umum ciri kehidupan Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar sama. Mereka hidup berdampingan secara damai dan selaras dengan alam sekitar. Namun aturan adat di Baduy Dalam lebih ketat. Kita dilarang memotret dan menggunakan alat elektronik lainnya, dilarang menggunakan perlengkapan mandi seperti sabun, pasta gigi dan sampo. Bahkan kita juga dilarang merokok. Selain itu pada bulan Kawalu yaitu masa panen yang berlangsung selama Februari sampai April, wilayah Baduy Dalam juga dilarang untuk dikunjungi orang luar.
Masyarakat Baduy Dalam sangat menjaga alam dan lingkungannya. Salah satunya menjaga sungai Ciparahiyang yang jernih, dengan melarang penggunaan perlengkapan mandi yang mengandung bahan kimia. Selain dapat mencemari sungai juga melanggar adat. Apalagi letak geografis Baduy Dalam di atas bukit dan di hulu sungai, dimana air sungai Ciparahiyang selanjutnya akan bermuara ke Sungai Ciujung dan mengalir ke kampung-kampung di Baduy Luar, bahkan hingga ke Rangkasbitung. Menurut mereka bila di hulunya tidak dijaga, maka ekosistem di sepanjang aliran sungai selanjutnya akan tercemar.
Kepedulian masyarakat Baduy terhadap lingkungan tercermin dalam Pikukuh atau aturan adat yang kuat. Salah satu Pikukuhnya adalah;

”Gunung teu meunang dilebur
Lebak teu meunang dirusak
 Larangan teu meunang dirempak
Buyut teu meunang dirobah
Lojor teu meunang dipotong
Pondok teu meunang disambung”

(Gunung tidak boleh dihancurkan
Lembah tidak boleh dirusak
Larangan tidak boleh dilanggar
Amanat tidak boleh diubah
Panjang tidak boleh dipotong
Pendek tidak boleh disambung).

Di Kampung Cibeo yang merupakan jantungnya Baduy Dalam, selanjutnya Jaya membawa saya dan Erwin ke salah satu rumah yang akan menjadi tuan rumah kami. Setelah beristirahat sejenak dan beramah tamah dengan beberapa warga, kemudian kami memutuskan untuk segera menikmati sensasi mandi di sungai Ciparahiyang yang jernih dengan bebatuan alam dan tanpa sabun tentunya. Berendam membersihkan diri dan menyegarkan badan setelah lelah beberapa jam naik turun perbukitan.
Usai mandi badan bersih dan segar kembali. Kini giliran perut kami yang menuntut. Dengan bekal nasi bungkus yang dibawa Jaya, ditambah mi instan dan kornet dari bekal kami yang dimasak oleh tuan rumah, dalam sekejap hidangan itu ludes kami santap. Inilah nikmat makan yang sesungguhnya. Disaat lelah dan lapar mendera, meski dengan menu sederhana kelezatannya jadi luar biasa. Apalagi kemudian disusul sajian kopi panas dengan gula aren  dalam gelas bambu khas Baduy yang disuguhkan tuan rumah, sungguh menjadi sajian penutup penuh kenikmatan yang tak terbantahkan.
Sementara di luar sana suasana Kampung Cibeo begitu terasa tenang dan tenteram. Jauh dari polusi dan kebisingan. Meski dalam balutan kesederhanaan, lingkungannya sangat tertata apik dan resik. Menyusuri lorong-lorong kecil di antara rumah-rumah panggung di Cibeo, ada keasyikkan tersendiri. Puas berkeliling di Cibeo, dengan ditemani dua pemuda setempat kami memutuskan untuk mampir ke Cikertawana, kampung terdekat yang ada di Baduy Dalam lainnya.
Seperti juga di Cibeo, di Cikertawana suasananya tak jauh berbeda. Sepi. Kampung yang dihuni lebih kurang lima puluh Kepala Keluarga, ini juga sarat dengan kesederhanaan. Di Cikertawana kami disambut dua lelaki yang sedang ronda sembari membakar kayu. Bermodal bahasa Sunda sedikit-sedikit, saya pun mencoba membagun obrolan dengan mereka. Hasilnya tidak sia-sia. Salah seorang diantara mereka  menawari kami pisang bakar. Hehehe…. Tapi sayang keakraban itu hanya sebentar karena terganggu cuaca yang berubah drastis. Langit mendadak mendung, gerimis pun turun. Sebelum hujan deras kami pamit kembali ke Cibeo, tanpa sempat menikmati pisang bakarnya.
Tiba kembali di Cibeo senja pun berlalu dan malam datang begitu cepat. Gelap. Saya, Erwin, Jaya dan beberapa warga Cibeo yang sedang santai mengobrol di luar dipersilakan masuk oleh tuan rumah. Obrolan berlanjut di dalam rumah dengan penerangan lampu minyak. Dengan pandangan samar-samar, malam itu obrolan kami seru dan mengasyikkan. Apalagi setelah beberapa tetangga dan salah satu tokoh Kampung Cibeo ikut bergabung. Suasananya makin akrab dan terbuka.
Obrolan kami awalnya hanya cerita seputar keluarga masing-masing. Tapi dari beberapa pertanyaan dan jawaban yang mereka lontarkan, di balik kesederhanaannya mereka orang-orang yang cerdas. Masyarakat Baduy Dalam yang tak mengenal baca-tulis, ternyata mengikuti perkembangan dunia luar. Saya dan Erwin sempat kaget ketika Jaro Sami, Tokoh Kampung Cibeo bertanya berapa total biaya yang dikeluarkan orangtua untuk menyekolahkan anak di kota, mulai dari sekolah dasar sampai sekolah tinggi dan siap bekerja lepas dari tanggungan orangtua?
Terus terang saya dan Erwin tidak siap dengan jawaban yang tepat dan logis. Akhirnya Erwin berinisiatif  mengajak kami yang hadir di sana menghitung bersama-sama sampai ketemu angka sekian puluh juta rupiah.
Selain pertanyaan yang membutuhkan perhitungan rumit tadi, tak kalah serunya adalah waktu mereka bertanya berapa istri Erwin? Hahaha… Ketika dengan sigap teman saya itu menjawab bahwa dia juga menganut prinsip yang sama seperti orang Baduy Dalam, mereka tertawa puas. Ya, orang Baduy memang menerapkan aturan adat perkawinan monogami yang ketat.
Malam rasanya semakin cepat merangkak. Sebenarnya kami masih ingin berbagi cerita, begitu juga mereka, tapi apa daya kantuk sudah tak tertahankan lagi. Malam itu akhirnya kami sepakat menutup obrolan dan segera beristirahat.
Bermalam di Baduy Dalam meski hanya diijinkan semalam, namun banyak memberi pelajaran yang sangat berarti bagi kami. Sikap hidup sederhana, bersahabat dengan alam dan yang alami serta semangat kemandirian.

*****




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta

Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...