Minggu, 06 Maret 2016

Maafkan Saya Pak Tua

Perempatan Kayu Putih, Sabtu 15.30.
Tembang lawas All I Am dari Heatwave yang dipancarkan  Brava Radio, masih mengalun sejak saya meninggalkan studio foto milik seorang teman di kawasan Pulomas.  

Sambil nunggu traffic light berubah hijau, di kabin lapang Isuzu Panther yang sejuk, saya lihat seorang pengemis Tua berkaki satu dengan krugnya berjalan sedikit tertatih mengarah ke samping kanan mobil saya. Sebelum sampai mendekat, sudah saya siapkan  lembaran dua ribu rupiah dari laci, sekedar sedekah kecil.

Di luar matahari masih lumayan panasnya. Saat Pak Tua itu mendekat, saya buka kaca jendela, o ow…, ternyata saya salah sangka. Dia rupanya bukan pengemis. Pak Tua itu penjual tablet hisap Vitamin C. Maaf Pak Tua, saya tadi ngga lihat dagangan di kantong  kresek  yang ada di tangan kiri bapak. Saya terlalu fokus pada kaki bapak….

Dia sodorkan Vitamin C yang selembarnya berisi dua. “Tiga rupiah, Pak,” katanya.

Di saat bersamaan traffic light berubah warna, saya jadi sedikit gelagapan. Dari laci saya tarik lembaran lima ribu, “Satu aja, Pak,” pinta saya sambil buru-buru tancap gas, tanpa perlu minta uang kembalian.


Maafkan saya Pak Tua, saya sudah salah sangka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta

Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...