Sabtu, 26 Maret 2016

Nunggu Kamu 'Mbrojol

Malam di jam 02.45.
“Kamu makan yang pedes-pedes, ya?” 
Ann menggeleng.
“Makan rujak, kali?”
Ann menggeleng lagi.
“Coba diinget-inget…”
“Aku ngga makan apa apa, kok. Bener.”
Wajah Ann terlihat pucat, tapi saya tak berkomentar, khawatir dia panik.
Untuk ketiga kalinya Ann ke toilet sambil memegang perutnya. Saya ikuti dia dari belakang. Saya lihat air di kloset berwarna merah.  
“Kamu ambeien?”
“Sepertinya sudah waktunya deh, Yah.”
“Lahiran? Sekarang?? Seriuuus???!”
Tanpa babibu…, saya tinggalkan Ann. Buru-buru saya cari tas besar berisi keperluan di klinik persalinan, yang memang sudah kami siapkan. Perkiraan dokter Basuki kalau Si Jabang Bayi lahir di bulan depan sepertinya meleset. Naga-naganya memang sekarang waktunya. Aduuuuhh…, kenapa saya malah mengira istri saya ambeien.
Saya sedikit panik, tapi berusaha tetap tenang. Maklum ini pengalaman pertama saya menyambut anak pertama. Pelan-pelan saya coba atur nafas yang mulai terengah-engah. Sambil terus berdoa, saya mengharap ketenangan dari-NYA.
Oke, semua keperluan sudah siap. Lalu…, ah, saya bingung lagi.
Oya, kembali ke toilet, menuntun istri saya keluar dan merebahkannya di sofa.
“Tunggu sebentar, ya. Aku cari taksi, dulu.”
Ann mengangguk. Pelan.
Saya lari ke pangkalan taksi di ujung jalan. Ya, Tuhan…, tolong saya, isteri saya mau melahirkan….
Beruntung ada satu taksi yang mangkal di sana. Dari jauh alunan musik dangdut terdengar sayup-sayup menghibur malam. Semakin saya mendekat, semakin kencang musik yang ternyata berasal dari warung rokok di depan taksi itu.
Dari samping kaca jendela taksi yang setengah terbuka, saya lihat pak sopir tidur. Tapi saya tetap membangunkannya.
 Tanpa menunggu lama pak sopir pun bangun.
 “Narik, Pak?”
“O ya, ya…,” jawab pak sopir sambil membenahi posisi duduknya.
 Saya langsung masuk dan duduk di sampingnya. Taksi tak langsung jalan. Pak sopir malah mengambil termos, lalu menikmati air panas yang ada di dalamnya. Baru kemudian dia mengikuti arahan saya, menjemput Ann yang menunggu di rumah.
Sayang laju taksi tidak berjalan normal. Meliuk-liuk. Sadar bahaya mengancam, saya langsung menyuruh pak sopir menghentikan taksinya. Sepertinya dia masih ngantuk berat.
Tanpa perlu marah-marah, saya memintanya pindah ke tempat duduk saya. Saat itu juga saya langsung menggantikan tugasnya.
Taksi saya dekatkan ke pintu masuk rumah. Sebentar saya tengok pak sopir  yang tidur, lalu saya  masuk ke rumah dan menuntun Ann ke kursi belakang taksi.
Malam itu saya antar Ann ke klinik bersalin, ditemani sopir taksi yang tertidur pules di sebelah saya.
            Zzzzzzzzzzzzzzzzzzz….

***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta

Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...