Malam
di jam 02.45.
“Kamu
makan yang pedes-pedes, ya?”
Ann
menggeleng.
“Makan
rujak, kali?”
Ann
menggeleng lagi.
“Coba
diinget-inget…”
“Aku
ngga makan apa apa, kok. Bener.”
Wajah
Ann terlihat pucat, tapi saya tak berkomentar, khawatir dia panik.
Untuk
ketiga kalinya Ann ke toilet sambil memegang perutnya. Saya ikuti dia dari
belakang. Saya lihat air di kloset berwarna merah.
“Kamu
ambeien?”
“Sepertinya
sudah waktunya deh, Yah.”
“Lahiran? Sekarang?? Seriuuus???!”
Tanpa
babibu…, saya tinggalkan Ann. Buru-buru saya cari tas besar berisi keperluan di
klinik persalinan, yang memang sudah kami siapkan. Perkiraan dokter Basuki kalau
Si Jabang Bayi lahir di bulan depan sepertinya meleset. Naga-naganya memang sekarang
waktunya. Aduuuuhh…, kenapa saya malah mengira istri saya ambeien.
Saya
sedikit panik, tapi berusaha tetap tenang. Maklum ini pengalaman pertama saya
menyambut anak pertama. Pelan-pelan saya coba atur nafas yang mulai terengah-engah.
Sambil terus berdoa, saya mengharap ketenangan dari-NYA.
Oke,
semua keperluan sudah siap. Lalu…, ah, saya bingung lagi.
Oya, kembali ke
toilet, menuntun istri saya keluar dan merebahkannya di sofa.
“Tunggu
sebentar, ya. Aku cari taksi, dulu.”
Ann
mengangguk. Pelan.
Saya
lari ke pangkalan taksi di ujung jalan. Ya, Tuhan…, tolong saya, isteri saya
mau melahirkan….
Beruntung
ada satu taksi yang mangkal di sana. Dari jauh alunan musik dangdut terdengar sayup-sayup
menghibur malam. Semakin saya mendekat, semakin kencang musik yang ternyata berasal
dari warung rokok di depan taksi itu.
Dari
samping kaca jendela taksi yang setengah terbuka, saya lihat pak sopir tidur. Tapi
saya tetap membangunkannya.
Tanpa menunggu lama pak sopir pun bangun.
“Narik, Pak?”
“O
ya, ya…,” jawab pak sopir sambil membenahi posisi duduknya.
Saya langsung masuk dan duduk di sampingnya. Taksi
tak langsung jalan. Pak sopir malah mengambil termos, lalu menikmati air panas
yang ada di dalamnya. Baru kemudian dia mengikuti arahan saya, menjemput Ann
yang menunggu di rumah.
Sayang
laju taksi tidak berjalan normal. Meliuk-liuk. Sadar bahaya mengancam, saya
langsung menyuruh pak sopir menghentikan taksinya. Sepertinya dia masih ngantuk
berat.
Tanpa
perlu marah-marah, saya memintanya pindah ke tempat duduk saya. Saat itu juga saya
langsung menggantikan tugasnya.
Taksi
saya dekatkan ke pintu masuk rumah. Sebentar saya tengok pak sopir yang tidur, lalu saya masuk ke rumah dan menuntun Ann ke kursi
belakang taksi.
Malam
itu saya antar Ann ke klinik bersalin, ditemani sopir taksi yang tertidur pules
di sebelah saya.
Zzzzzzzzzzzzzzzzzzz….
Zzzzzzzzzzzzzzzzzzz….
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar