Di musim rambutan seperti
sekarang ini, biasanya sepanjang jalan Jatiwaringin Raya banyak berjejer pedagangnya.
Tapi entah kenapa tadi saya tak menemuinya barang satu. Apa memang sudah
ngga musim….
Keluar kawasan
Jatiwaringin, saya belokan motor ke kampung tempat saya tinggal. Baru
kemudian di depan SD Negeri 07 saya temui pedagang rambutan yang memang biasa mangkal di situ.
Saya lihat ada dua
jenis rambutan dijual di sana. Dari penampakannya, yang satu saya kenal betul itu
Rambutan Rafiah. Tapi yang satunya lagi, saya ngga tahu dari jenis apa? Dari tampilannya
sepertinya sudah ngga segar.
Di atas rambutan
itu, ditaruh sepotong kecil kayu triplek
bertuliskan “Binjai”. Tapi apa benar itu rambutan Binjai? Entahlah. Saya
ngga kenal betul dengan fisik jenis rambutan itu. Karena seminggu belakangan ini saya sering beli rambutan Parakan, yang buat saya cukup manis dan enak rasanya.
“Yang ini berapa,
Bang?” tanya Istri saya menunjuk rambutan Binjai.
Dengan agak ragu
Si Abang penjual menjawab, “Dua puluh ribu, Bu.”
“Lima belas ribu,
aja, ya,” tawar Istri saya.
“Belum bisa, Bu.
Ini kan Binjai,” katanya sambil menunjuk tulisan Binjai yang ada di atas
rambutan itu.
Saya sebenarnya
mau ketawa waktu dengar Si Abang penjual
rambutan agak ragu menyebut harga dan waktu dia menyebut kata “Binjai” sambil
menunjuk tulisan di triplek buatannya. Tapi saat itu saya
diam saja. Ngga merespon apapun yang dilakukan Si Abang penjual rambutan. Kalau
pun saya tahu itu bukan rambutan Binjai pun, saya juga ngga akan menyangkal Si Abang. Hehehe…
Buat saya, Binjai
atau bukan, ngga terlalu penting. Masa sih, gara-gara saya ngga yakin kalau itu
bukan rambutan Binjai, saya ngga jadi beli. Apalagi harganya (relatif) murah. Cuma
dua puluh ribu.
Dimana pun, namanya pedagang (apalagi pedagang kecil), ada calon pembeli datang, pastinya senang dan berharap dagangannya dibeli, kan?
Dimana pun, namanya pedagang (apalagi pedagang kecil), ada calon pembeli datang, pastinya senang dan berharap dagangannya dibeli, kan?
“Udaaahh…lima
belas ribu aja,” pinta istri saya lagi.
“Belom bisa, Bu.”
“Ya udah deh,”
Istri saya mengalah.
“Mau yang mana,
Bu?”
Istri saya menunjuk
salah satu rambutan Binjai itu dan membayarnya. Lalu kami pun pulang.
Sorenya kami baru
menikmati rambutan itu. Dan kami beruntung, rambutan (yang katanya) Binjai itu ternyata seperti yang kami harapkan, tampilan dalamnya
bagus, tebal, ngelotok dan manis rasanya.
Alhamdulillah kami nikmati berdua,
sampai habis tak bersisa….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar