Minggu, 06 Maret 2016

Ini Rambutan Binjai

Di musim rambutan seperti sekarang ini, biasanya sepanjang jalan Jatiwaringin  Raya banyak berjejer pedagangnya. Tapi entah kenapa tadi saya tak menemuinya barang satu. Apa memang sudah ngga musim….

Keluar kawasan Jatiwaringin, saya belokan motor ke kampung tempat saya tinggal. Baru kemudian di depan SD Negeri 07 saya temui pedagang rambutan yang memang biasa mangkal di situ.

Saya lihat ada dua jenis rambutan dijual di sana. Dari penampakannya, yang satu saya kenal betul itu Rambutan Rafiah. Tapi yang satunya lagi, saya ngga tahu dari jenis apa? Dari tampilannya sepertinya sudah ngga segar.

Di atas rambutan itu, ditaruh sepotong kecil kayu triplek  bertuliskan “Binjai”. Tapi apa benar itu rambutan Binjai? Entahlah. Saya ngga kenal betul dengan fisik jenis rambutan itu. Karena seminggu belakangan ini saya sering beli rambutan Parakan, yang buat saya cukup manis dan enak rasanya.

“Yang ini berapa, Bang?” tanya Istri saya menunjuk rambutan Binjai.
Dengan agak ragu Si Abang penjual menjawab, “Dua puluh ribu, Bu.”
“Lima belas ribu, aja, ya,” tawar Istri saya.
“Belum bisa, Bu. Ini kan Binjai,” katanya sambil menunjuk tulisan Binjai yang ada di atas rambutan itu.

Saya sebenarnya mau ketawa waktu dengar  Si Abang penjual rambutan agak ragu menyebut harga dan waktu dia menyebut kata “Binjai” sambil menunjuk tulisan di triplek buatannya. Tapi saat itu saya diam saja. Ngga merespon apapun yang dilakukan Si Abang penjual rambutan. Kalau pun saya tahu itu bukan rambutan Binjai pun, saya juga ngga akan menyangkal Si Abang. Hehehe…

Buat saya, Binjai atau bukan, ngga terlalu penting. Masa sih, gara-gara saya ngga yakin kalau itu bukan rambutan Binjai, saya ngga jadi beli. Apalagi harganya (relatif) murah. Cuma dua puluh ribu. 

Dimana pun, namanya pedagang (apalagi pedagang kecil), ada calon pembeli datang, pastinya senang dan berharap dagangannya dibeli, kan?

“Udaaahh…lima belas ribu aja,” pinta istri saya lagi.
“Belom bisa, Bu.”
“Ya udah deh,” Istri saya mengalah.
“Mau yang mana, Bu?”

Istri saya menunjuk salah satu rambutan Binjai itu dan membayarnya. Lalu kami pun pulang.

Sorenya kami baru menikmati rambutan itu. Dan kami beruntung, rambutan (yang katanya) Binjai itu ternyata seperti yang kami harapkan, tampilan dalamnya bagus, tebal, ngelotok dan manis rasanya.


Alhamdulillah kami nikmati berdua, sampai habis tak bersisa….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Pemimpi di Depan Taman Cinta

Waktu masih kuliah saya kepingin banget punya Rumah Mungil yang cantik dan apik, dengan taman kecil di depan rumah. Impian yang menggo...